![]() |
| Credit: N. Hendrickson-iStockphoto |
Aku masih ingat pengalaman petamaku dengan sebuah
naskah yang begitu padat, begitu hambar, ketat, yang beberapa ilmuwan tampak
mengunyah naskah tersebut seperti kegiatan enteng dan rutinitas belaka.
Saat itu aku masih di perguruan tinggi dan mengikuti
sebuah pelatihan dimana kita harus membaca dan mendiskusikan tulisan baru
setiap minggu. Dan beberapanya tidak berjalan lancar untukku.
Begini jalannya pelatihan untukku: Setiap minggu, di
kelas, aku akan duduk bersama sebuah artikel; membaca setiap penggal kalimat,
dan kemudian menemukan fakta bahwa ternyata aku belum memahami satu hal pun.
Aku mengikuti kelas dengan satu pengetahuan yang sangat jelas: aku tahu sekali bahwa
aku telah membaca artikelnya, itu saja. Kemudian, Sang Instruktur mengajukan
satu pertanyaan; aku tak paham sama sekali apa yang ibu instruktur tanyakan.
Kemudian ia tanyakan kembali sebuah pertanyaan gampang—masih tak ada ide
jawaban. Tapi aku telah membaca artikel kampret
ini!
Hal itu mengingatkanku pada saat di TK, ketika aku
dengan rasa bangga setelah membaca sebuah buku satu level di atas level
kelasku. Tapi ketika kau menanyakan padaku pertanyaan sederhana—Wilbur itu
jenis binatang apa? Bagaimana bisa Encyclopedia Brown (Buku fiksi anak tentang
petualangan detektif-pen) tahu bahwa Bugs Meany bukan betul-betul cewek?—aku
tak akan punya jawabannya.
Beberapa minggu sebelum pelatihan, aku memutuskan
bahwa cukup sudah! Aku tidak akan melompat membaca artikel berikutnya tanpa
terlebih dahulu memahami artikel yang sebelumnya. Minggu itu aku boyong
artikelnya ke perpustakaan, bukan hanya perpustakaan umum, tapi menuju
perpustakaan kecil Biologi yang lembab, salah satu ruang akademik tersembunyi
yang penghuni mayoritasnya adalah makhluk paling malang di kehidupan ini,
diantaranya, tentu saja, kutu dan mahasiswa doktoral.
Aku menaruh sang artikel di sebuah meja besar yang
kosong. Dan menggusur apa saja yang bisa menjadi pengalih perhatian, kemudian menghindari
ajakan kawan untuk menenggak alkohol yang seperti biasa mereka lakukan di
kampus. Aku duduk di ruang depan yang redup dan sepi dari lalu lalang
orang-orang. Aku juga menghindarkan diri dari gangguan telepon seluler. Aku
yakin sekali kejadiannya waktu itu di tahun 1999.
Kegiatan utamaku waktu itu, jika aku tak paham sebuah
kata dalam satu kalimat, aku melarang diriku sendiri dari desakan keinginan
untuk lanjut saja pada kalimat berikutnya, sampai aku memahami maknanya di buku
teks, dan kemudian membaca kembali kalimatnya sampai kupahami dan betul-betul masuk
akal untukku.
Aku paling ingat dengan kejadian apa yang terjadi pada
kata “exogenous.” Entah bagaimana aku
selalu mengabaikan kata ini, seolah-olah kata ini tidak penting dalam sebuah
kalimat. Salah!
Butuh waktu 2 jam lebih untuk membaca tiga artikel dan
kemudian memahami kata itu. Akhirnya waktu itu, aku jadi betul-betul memahaminya.
Dan menurutku, “Wow, aku paham. Aku betul-betul paham
sekarang.”
Dan sesaat kemudian muncul pikiran ini, “Oh kampret,
aku harus melakukan ini lagi, iya kan?”
Jika kau pada posisi ilmuwan pemula saat ini, mungkin
kau terbentur dengan masalah yang sama. Hal berikut mungkin bisa membantu
dirimu sendiri untuk terbiasa dalam membaca artikel dengan sepuluh langkah
membaca sebuah karya ilmiah:
1.
Optimisme.
“Hal ini tak mungkin menjadi terlalu sulit,” kau berkata dengan senyum—dengan
cara yang sama kau juga mengatakan pada dirimu sendiri,“ tidaklah berbahaya
untuk meminum delapan cangkir kopi sehari” atau “Ah, Jangka waktu pengerjaanya
masih lama.” Setelah semuanya, tanpa sadar kau telah membaca kata-kata seperti
telah beberapa dekade saja. Dan itu semua adalah artikel ilmiah, kan? Gerombolan
kata-kata?
2.
Ketakutan.
Pada tahap ini kau menyadari, “ohh, aku tak habis pikir bahwa ini semua adalah
kata-kata.” Jadi kau memperlambat gerak sedikit, memeriksa suku-suku kata,
memilah istilah-istilah, melihat akronim, dan memeriksa pekerjaan ini beberapa
kali. Selamat: Sekarang kau telah membaca judulnya.
3.
Penyesalan.
Kau mulai menyadari bahwa seharusnya kau memberikan lebih banyak waktu untuk
membaca tulisan-tulisan ini. Mengapa, oh mengapa, kau berpikir bisa selesai
membaca artikel itu dalam satu kali perjalanan naik bus? Jika saja kau memiliki
waktu lebih. Jika saja kau memiliki tombol bel dari tempat kerja tahun 1960an,
dan kamu hanya tinggal menekan tombol dan berkata, “Phoebe, batalkan semua skedulku
di bulan Januari.” Jika saja artikel ini terdapat versi ringkasnya, terdiri
dari 250 kata yang penting-penting saja atau lebih sedikit dari itu, dicetak
tebal pada halaman awal…..
4.
Potong kompas.
Mengapa? Apa-apaan ini? Sebuah abstrak, semuanya untukku? Terpujilah editor
artikel ilmiah yang tahu bahwa ada artikel yang tidak komprehensif, jadi dia
meminta penulisnya untuk menyiapkan, ala Spaceballs(film
comedy tahun lama-pen), “Pendek saja, versi pendek.” Baiklah. Ayo kerjakan
lagi.
5.
Keheranan.
Apa-apaan ini? Abstrak ini sedang berusaha menjelaskan sesuatu? Mengapa setiap
kalimat rata-rata panjangnya 40 kata? Mengapa begitu banyak singkatan? Mengapa
penulisnya menggunakan kata “karakteristik” sampai lima kali?
6.
Gangguan.
Bagaimana jika ada sesuatu, seperti, sebuah smartphone untuk bebek? Bagaimana
itu cara kerjanya? Mereka akan menggunakannya buat apa ya? Dan apa yang sedang
terjadi ketika salah satu lirik dari Paul Simon, “You Can Call Me A1,” mengalun sepanjang hari di kepalamu? Bagaimana
perubahan hidupmu ketika kau memiliki sebuah mesin pembuat roti? Kau harus
membeli ragi. Apakah ragi harganya mahal? Kau semestinya membuat roti setiap
beberapa hari, tapi kemudian rotinya mungkin akan basi. Rotimu tidak sama
dengan roti yang di jual di toko: tidak sama, dan jangan tanya kenapa. Oh,
baiklah! “Jangan akhiri kehidupan kartun di sebuah taman kuburan kartun.”
Apakah Paul Simon masih hidup? Kau harus menceknya di Wikipedia. Kadang kau
bingung antara dia dengan Paul McCartney atau Paul Shaffer. Segan mengenai
David Bowie. Bolehkah kau memasukkan kopi kedalam alat pelembab ruangan?
7.
Menyadari bahwa 15 menit telah berlalu dan kau belum
lanjut pada kalimat berikutnya
8.
Kesungguhan. Tentu
saja. Betul-betul harus membacanya kali ini. Betul-betul bekerja. Yup, baiklah,
ba-ik-lah, membaca adalah apa yang kau kerjakan sekarang. Ayo arahkan pupil
pada tinta-tinta kering di tiap halamanya itu, dan …
9.
Mengamuk. BAGAIMANA
BISA ADA OTAK MANUSIA YANG MAMPU MEMBIKIN KALIMAT SEPERTI INI?
10.
Renungan sejati
spanjang karir di bidang kemanusiaan. Tulisan
akademik yang ditulis dengan tidak ilmiahlah yang gampang untuk dipahami, iya
kan? Betulkan?
Apa yang aneh dari sebuah artikel jurnal ilmiah
adalah, kita berkerja dengan artikelnya berbulan-bulan atau bahkan tahunan. Kita
menulisnya dengan menggunakan bahasa sehari-hari yang khusus, yang bahkan
sebagian ilmuan tidak paham apa maksudnya. Kita menempatkannya pada sebuah
situs berbayar dan mengenakan sejumlah biaya dengan nilainya yang aduhai,
seperti $34.95, untuk mendapatkan hak istimewa supaya bisa membacanya. Kemudian
siap menerima nasib atas tidak bisa diaksesnya artikel-artikel tersebut dan
kemudian mulai memasuki “Klub Jurnal” dengan membawa harapan semoga ada kawan
yang mungkin mengerti dan meringkas artikelnya untuk kita.
Bisakah kau membayangkan jika artikel majalah biasa
menjadi seperti sebuah artikel ilmiah? Bayangkan di cover story majalah Time terdapat
48 orang penulis. Atau sebagian halaman The
Economist yang kau ingin baca, setelah semuanya dijelaskan, terdapat
catatan kaki yang berisi daftar setiap jenis produk-produk perusahaan dan
lokasi dimana perusahaan itu berada. Atau di majalah People editorial tentang Jimmy Kimmel (Seorang Host dan
komedian-pen) hanya bisa di publikasi setelah ada proses review ketat dari ahli
di bidang Jimmy Kimmel.
Apakah kau tahu kau akan menyebut apa sebuah majalah
yang sebelumnya musti ada catatan intelektual dan kondisi syaraf mumpuni, hanya
untuk bisa membaca apa yang majalah itu ingin katakan? Kau akan menyebut bahwa
majalah tersebut ditulis dengan cara menulis artikel yang buruk.
jadi untuk para pembaca jurnal pemula, selamat datang.
Semoga beruntung. Dan kita mohon maaf. Kita mencoba untuk menulis artikel yang
komprehensif, tapi kadang-kadang subdisiplin kita bisa menjadi begitu
sangat-sangat spesifik dan karenanya kita membutuhkan milyaran singkatan kata.
Dan suatu waktu kita hanya berupaya untuk mencontek gaya penulisan imuwan
terbaik dari setiap artikel yang kita baca. Dan tentu, kadang kita hanya memang
menulis sesuatu yang buruk.
Quackberry. Begitu cara kau akan menyebut sebuah smartphone
untuk bebek.
Tulisan ini disarikan dan diterjemahkan tanpa ijin
oleh Afrital Rezki dari artikel di: http://www.sciencemag.org/: How To Read A Scientific Paper. ( Segala kredit
untuk penulis asli Bapak Adam Ruben, Ph.D.,)

No comments:
Post a Comment