Ki Ageng Murphy Dan Kenakalannya

***
Lagi, kecurigaan awak selama ini terbukti. Bahwa Orang Barat gemar memikirkan apa saja, membahas apa saja dan kemudian menuliskannya menjadi sebuah penelitian, bahkan bisa menjadi dalil yang universal. Kali ini sebut saja namanya Ki Ageng Murphy.

***
Tulisan ini tentang beberapa kejadian sehari-hari di sekitar, dan kaitannya dengan belitan Dalil Murphy. Kalau kau pernah mendengar dalil ini, mungkin kau sudah bisa menebak ke arah mana tulisan ini bergerak. Bagi yang baru pertama kali mendengar, sabarlah sebentar. Atau, kau bisa menghentikan bacaan sementara di sini dan melongok Wikipedia.
Sumber: https://www.etsy.com
***
Engkau pernah mengalami ini?
Ketika kau tergesa membuka pagar rumahmu, ada kemungkinan gemboknya akan ngadat. Dalil Murphy—Jika sesuatu bisa jadi berantakan, biasanya pasti akan—pun menimpa. Kunci yang biasanya kau gunakan sama, sekali ini tak bisa membuka gembok,  meski dicoba terus menerus, atas pertolongan temanmu baru pagarnya bisa membuka. Jadi dalil Murphynya: Semakin kau berkutat membuka gembok, semakin tidak mau ia membuka.

Lagi: Saat kau sedang terburu waktu ke kampus, angkot yang kau tumpangi malah ternyata berlama-lama dulu singgah di SPBU.

Lagi: Begitu kau selesai mencuci baju hujanpun turun, padahal berhari-hari lalu kau tidak mencuci, cuaca panas terik. Jadi Dalil Murphynya berbunyi: Mencuci baju, identik dengan ritual tarian hujan orang Indian yang memanggil dewa hujan.

Atau kejadian yang dialami seorang kawan baru-baru ini. Dikunjungan kesekian kali ke Blok M, ia berjanji untuk tidak kalap, ketika pulang malah ia yang paling banyak membawa kantong belanjaan.

Dalil Ki Ageng Murphy ini memang mencakup segala aspek kehidupan manusia dan kadang-kadang disertai pula dengan simbol-simbol matematika. Coba lihat salah satu ’rumus’ yang berbicara tentang kecantikan wanita ini.

”Cantik dari jauh = Jauh dari cantik.”

Ada pula yang bergaya seperti ilmu statistik: ”Semakin seksi seorang pria semakin tinggi probabilitasnya dia seorang gay.” Atau, “Semakin keterlaluan cantiknya seorang wanita, semakin tinggi probabilitas dia dulunya seorang pria.

Dan dalil soal dunia pacaran: “Bila seorang lelaki ingin sang pacar mendengarkanya, dia tak mendengarkan. Bila lelaki itu ingin tidak didengar wanitanya, maka wanitanya akan pasang telinga lebar-lebar.

Dalil Murphy (Murphy’s Law) memang tidak serupa dengan dalil kekekalan massa-nya Lavoisier, dibutuhkan batangan kayu yang dibakar untuk pembuktianya. Atau dalilnya Archimedes, untuk pembuktian dalil ini kau perlu menceburkan diri dulu ke dalam bak mandi, dengan telanjang bulat. Atau dalil-dalil lain yang membuat kening berkerut karena formula-formula ajaibnya. Maka dalil yang satu ini cenderung mudah dibuktikan, kadangkala membikin orang menertawakan dirinya sendiri. Dalil Ki Ageng Murphy ini tidak membutuhkan pembuktian empiris untuk mendukungnya. Namun akurasinya tak perlu diragukan lagi.

Dalil Murphy ini dipopulerkan pada tahun 1949 oleh seorang perwira Angkatan Udara AS bernama Kapten Edward Murphy yang ditugasi untuk melakukan penelitian akan kemampuan manusia menahan deselerasi mendadak, misalnya pada saat tabrakan. Maka lahirlah ungkapannya yang terkenal “If anything can go wrong, it will.” (terjemahan bebasnya: Jika sesuatu bisa jadi berantakan, dia pasti akan kejadian). Kemudian, dalil ini diartikan sembarangan sebagai dalil kesialan. Karena orang yang merasakan dalil ini dianggap merasa sial.

Contoh lain: Ki Ageng Murphy akan bertindak semena-mena ketika kau mau berkencan dengan kekasih, atau kekasih temanmu, atau selingkuhanmu yang sekian lama tak bertemu karena tugas keluar kota. Kau merasa sudah berdandan optimal, tapi disini Ki Ageng langsung bertindak, lima detik sebelum kau cipika-cipiki dengannya, kau menyadari lupa bercukur dan bulu hidungmu masih menjuntai keluar.

Dalil Ki Ageng Murphy adalah produk dunia modern, lengkap dengan segala kerumitannya. Andai kau ingin menemukan suatu masa yang tidak terpengaruh oleh dalil Murphy, kau perlu mundur ke babak akhir zaman batu, sekitar 5000 tahun sebelum masehi. Untuk mendapatkan gambaran tentang kehidupan di zaman itu, coba lihat ke luar jendelamu sekarang, kemudian bayangkan semua rumah, taman, mobil, dan jalanan menghilang dari hadapan. Lanjutkan operasi sapu bersih sampai kau dapat membayangkan tinggal di lereng bukit yang sunyi. Selanjutnya buang pula hampir semua orang yang biasa kau lihat. Tambahkan beberapa kambing. Sekarang kau sudah kembali ke zaman Palaeolitik. Harta nenek moyang kita kala itu hanya pohon, sedikit batu dan sedikit kambing. Tidak banyak yang dapat kau buat dari bahan baku semacam itu, dan tidak bisa pula keliru. Itu sebabnya nenek moyang kita jarang bertemu dengan Ki Ageng Murphy. Selain itu, dunia selalu sama bagi orangtua mereka, pun bagi nenek moyang jauh mereka. Mereka telah berevolusi selama berjuta tahun untuk merasakan kebahagian dalam dunia yang serba sederhana, tanpa perubahan, dan menyenangkan karena hampir tanpa rahasia. Visual sederhananya, bagi yang suka game dari microsoft “Age Of Empires (AOE), silahkan mulai dari zaman “dark age” atau era yang primitif sekali. Seperti itulah kesederhanaanya.

Bandingkan dengan hiruk pikuk zaman sekarang. Dalam waktu sebentar saja—beberapa ratus tahun, manusia modern telah menutup lubang bukti-bukti prasejarah yang dahulu sederhana. Pada abad 2000 SM, sebuah keluarga yang rata-rata beranggota sepuluh jiwa dapat tinggal dengan nyaman bersama semua perkakas dan mainan mereka—di dalam sebuah ruangan seukuran dapur. Kini orang kaya sering membeli rumah kedua hanya untuk menyimpan begitu banyak pernak-pernik yang menurut mereka tidak mungkin dijual atau dibuang. Tampaknya, gaya hidup bersahaja 4000-an tahun silam, telah habis tertimpa oleh tantangan hidup sosial beragam dan rumit saat ini.

Manusia telah melewati rentang waktu yang panjang sekali sejak zaman batu, tetapi otak manusia tidak berubah banyak, masih begitu-begitu saja. Pikirannya masih bergelung dalam mimpi zaman Palaeolitik. Nah, ketika otak zaman Palaeolitik bertemu dengan dunia modern, datanglah Ki Ageng Murphy!

Bagaimana reaksi otak zaman batu terhadap zaman iPhone? Kebanyakan ia masih akan tepukau dan serba bingung,—Seperti sinetron atau FTV cinta-cintaan, yang tingkat romantis bikinannya sering membuat penonton meleleh absurd hingga harus cari pegangan, pada sandaran kursi atau terali jendela—Ia bisa berakibat buruk bagi perkembangan kehidupan manusia. Karena tiap langkah kemajuan peradaban, akan selalu menyediakan kulit pisang yang siap membuat terjelepak. Namun, cukup melegakan juga jika mampu mendapatkan pegangan dan memperoleh penjelasan yang masuk akal atas semua fenomena ini.  Sebetulnya, peristiwa otak zaman batu yang bertarung dengan zaman modern, akan bisa merangsang rasa ingin tahu manusia lebih banyak tentang alam ini seperti: Mengapa ada laut yang dipenuhi ganggang cemerlang? Mengapa orang kota cenderung pindah ke daerah pinggiran? Dan mengapa universitas menambah dan terus menambah mahasiswanya meski melebihi kemampuan? Musti ada penjelasan yang masuk akal tentang sejumlah fenomena yang membingungkan, tetapi dianggap lazim ini.

Jawabannya terdapat pada diri manusia sendiri, sebab Ki Ageng Murphy sering bersembunyi di balik mata manusia yang melihatnya. Pikiran manusia memandang dunia sebagai sesuatu yang berkomplot melawannya, padahal dalam hal ini dunia sama sekali tidak bersalah.

Cerita berikut adalah contoh lagi tentang kenakalan Ki Ageng Murphy.
Tepat sebelum alarm berbunyi di pagi hari, matamu akan membelalak terbuka. Kau berpikir itu hebat, kau telah benar-benar terjaga dan siap melompat dari ranjang, dan mempunyai waktu dua menit sebelum mendengar bunyi alarm. Lalu kau mematikan alarm dan berbaring kembali sejenak. Yang kau dengar kemudian adalah teriakan telpon. Oh, ternyata jarum jam telah menunjuk pukul enam pagi dan kau ketinggalan pesawat.

Terakhir,

Kids in cars cause accidents
Accidents in cars cause kids.

Mengingat Ki Ageng Murphy sialan ini bisa membidik kita dari sudut manapun, dan ia bisa datang kapan saja, awak sarankan jagalah dirimu dengan laku baik. Awak juga akan bertindak demikian.

Bandar lampung—Depok 2013
*Dari banyak sekali sumber

No comments: