Untuk W, Sebuah Sajak Hampa

Gambar dari sini
W,
Satu waktu lalu aku pernah mendapatkan pengetahuan baru soal puisi. Kau tahu, menurut seorang penyair yang juga aku sukai karya-karyanya. "Suatu puisi yang tampaknya liar dan gelap sebenarnya sangat formulatik, dengan mudah ketahuan rumusnya” katanya.
Misalkan kalimat sederhana ini “hari ini baju yang aku cuci tak kering karena diguyur hujan”. Untuk menjadikanya puisi, bisa diganti saja kata "baju" dengan "kerinduan" atau "luka" atau "resah" dan kata "hujan" bisa diganti saja dengan "air mata" atau "darah". Lihatlah, sudah mirip dengan selarik puisi bukan? Ternyata tak hanya Batagor saja yang ada bumbu rahasianya, W. Puisi pun ada.
Maka, sekarang aku akan menulis semacam puisi untukmu, simaklah, W...
Sajak Hampa untuk W
W, aku ingin mendesakkan sesuatu padamu
Bagaimana sepiku sekarang
Aku melepas satu renggut, menekan pagut waktumu
Aku debu kau wangi
Aku dera dengan malam hitamku
Disini, kemah udara sedang petang dan remuk, warna pelangiku rusak
Bulanku sedang memancar. Tangis setiap senja dikotaku sekarang. Jarang terlihat cahaya
Kerinduan yang kukenakan hanya yang itu ke itu saja, yang terasing sudah habis menyerah
Apakah di matamu sekarang juga sedang memagut
Ada seorang iblis yang suka mengukir kerinduan tentang senja
Aku tak bisa memagut kerinduan
Gara-gara kelam aku jadi beku
Mungkin bulan enak disantap malam-malam begini
Atau matahari? Ah aku tak terlalu suka matahari
Oh, bukannya bulan dan matahari akan dilepas oleh Sang Pengatur yang sama?
Entahlah, Pelangi. Kadang mereka memagut bulan dan matahari, mencekik keduanya

Padahal, W, yang aku lakukan sebenarnya adalah menuliskan beberapa kalimat sederhana seperti ini:
1.         W, aku ingin bercerita sesuatu padamu
2.         Bagaimana keadanku sekarang
3.         Aku tuliskan satu hal, semacam puisi untukmu
4.         Aku harap kau suka
5.         Aku ketik dengan laptop hitamku
6.         Disini, dikamarku udara sedang panas dan pengap, kipas anginku rusak
7.       Cucianku sedang banyak. Hujan setiap hari di kotaku sekarang. Jarang terlihat matahari
8.         Baju yang kukenakan hanya yang itu ke itu saja, yang bersih sudah habis dipakai
9.         Apakah di kotamu sekarang juga sedang hujan
10.       Sapardi seorang penyair yang suka menulis puisi tentang hujan
11.       Aku tak bisa menulis puisi
12.       Gara-gara hujan aku jadi lapar
13.       Mungkin batagor enak disantap hujan-hujan begini
14.       Atau Siomay? Ah aku tak terlalu suka Siomay
15.       Oh, bukanya batagor dan siomay kadang dijual oleh tukang jualan yang sama?
16.       Entahlah, W. Kadang orang membeli batagor dan Siomay, dicampur keduanya
Setelah itu aku tinggal menggganti kata “bercerita” dengan “mendesakkan”, “keadaanku” dengan “sepiku”, “tuliskan” dengan “melepas”, “harap” dengan “debu”, “batagor” dengan “bulan” “siomay” dengan “matahari dan sebagainya. Dari kata-kata pengganti itu akan terbaca seperti bait-bait puisi. Tentu saja itu semua bukan puisi, hanya kumpulan-kumpulan kalimat yang terlihat dan terasa seperti puisi.

W. Aku sangat suka dengan pengetahuan, apapun jenis pengetahuannya. Aku suka saja mengetahui sesuatu bisa diterima oleh nalar dan logika, apalagi sampai diketahui rumus dan formulanya. Menjadi sesuatu yang eksak, meski memang dalam hidup ini tak semuanya bisa kita nalar dengan akal dan pikiran. Seperti ‘rasa’ yang aku rasakan untukmu, tak pernah bisa kucerna dan pahami seutuhnya, tapi ia ada dan nyata. Kau tahu bukan itu ‘rasa’ apa, W?

No comments: