Untuk W, Dan Permintaan Maaf Pada Kakak Pos Yang Baik

Gambar dari sini
W, aku sedang kalut. Kalut pada dua hal. Pertama, aku kalut pada pos yang beberapa hari ini begitu baik hati mengirimi surat-suratku untukmu. Namun hari ini ternyata aku melakukan keteledoran. Aku telat mengirim surat padanya. Aku telah menghalangi ia melakukan pekerjanya, W. Bukankah itu sebuah keteledoran besar? Aku kalut jika ia nanti tak mau mengabarkan surat-suratku lagi untukmu. Kalau memang terjadi, ini benar-benar merupakan satu berita buruk yang kuterima sepanjang tahun ini. Kau tahu, jika aku bisa bicara dengan tukang pos yang baik itu sekarang aku ingin menyampaikan ini;
“Hai Kakak posku yang baik, maafkan aku atas keteledoran ini. Semestinya surat ku untuk W yang hari ini kukasihkan saja sejak tadi pagi, bukan malah menahan-nahannya sampe sore. Sebenarnya niatku begini, surat itu setelah kuendapkan setengah hari maka kuharap aku akan bisa menemukan kesalahan-kesalahan dalam surat itu setelahnya, hingga sampai di saat-saat terakhir aku bisa memperbaikinya sebaik mungkin sebelum kuserahkan padamu. Namun sekarang kutahu ini bukan satu strategi yang baik. Maafkan aku karena menghalangi niat dan tugas muliamu menyebarkan dan mengabarkan kebaikan di dunia ini khusus hari ini. Biar aku saja yang menanggung dosa karena tugasmu menyebarkan kebaikan terhalangi olehku. Kuharap ini merupakan keteledoran ku yang terakhir. Sekali lagi maafkan aku.”

Hal yang kedua membuat aku kalut, engkau, W. Semua karena hari ini kau tak bisa membaca suaraku dan mendengar tulisan-tulisanku. Astaga, siapalah aku ini, W, hingga begitu percaya dirinya menuliskan kalimat sebelum ini. Siapalah aku ini hingga setiap surat-suratku pasti akan engkau baca? Siapalah aku ini hingga setiap surat-suratku selalu kau tunggu dikirim oleh Kakak Pos yang baik hati itu? Namun, jujur kukatakan, seandainya kau memang tak mengharapkan surat ku menyapamu setiap hari, ketahuilah, itu satu berita terburuk sepanjang hidupku.
Ah, aku kacau sekali hari ini, W. Maafkan aku, sebenarnya selama ini aku mengembangkan semacam keyakinan bahwa kau selalu menunggu cerita-cerita lewat suratku. Iya, dalam kasusku, keyakinan dan kegilaan memang terasa tipis sekali perbedaanya, apalagi menyangkut dirimu.
W, kalau kau ternyata masih membaca sampai kata yang aku tulis ini, aku hanya berharap engkau bersama-sama denganku, berdoa semoga Kakak Pos kita yang baik itu masih mau menerima dan mengantarkan surat-suratku untukmu, meski untuk hari ini sudah tak mungkin kau menerima surat dariku karena, kau tahu, sekarang ini kita sudah melenceng jauh dari jam kantor Kakak Pos yang baik.
Sekali lagi, W. Doakan aku, semoga masih bisa mengirimkan surat-surat untukmu lewat Kakak Pos yang baik.

No comments: