![]() |
| Gambar dari sini |
W,
Banyak
hal yang membuat aku benci padamu, di sekolah dulu itu contohnya. Dan bagaimana rasa benciku padamu hari ini? Oh, simak sajalah tulisanku ini baik-baik.
Aku
mulai benci ketika mendapat bantuan darimu soal Pekerjaan Rumah yang lupa aku
kerjakan. Aku benci meminjam buku PR-mu pagi itu, tangan kita tak sengaja bersenggolan, momen satu setengah detik yang membuat paru-paruku berhenti bekerja benar saat itu juga. Aku benci bantuan
kecilmu, membuat pikiranku berteriak “hei, ini hanya bantuan biasa, tak ada yang
istimewa, tak mungkin ada sesuatu yang lebih, biasa-biasa saja.” Satu detik
kemudian hatiku melawannya, “Persetan dengan pikiranmu, janganlah kau pakai
pikiran, tak bisa. Pakai saja rasa”. Aku bertarung dengan diriku sendiri, W. Kau
sering membikin diriku saling gampar dengan diriku sendiri seperti itu.
Ini
rahasia kecilku. Aku benci merasa sukses ketika hari itu di sekolah
menyalahgunakan ‘kekuasaan’ sebagai ketua kelas, mengusulkan—dengan sedikit paksaan—agar
susunan meja kursi di kelas kita jadi seperti susunan Konferensi Meja Bundar. Memaksakan
diri agar bisa duduk tepat di seberangmu dan bisa memperhatikanmu lebih
leluasa. Aku benci itu.
Aku
benci merasa senang ketika kau masuk sekolah hari itu. Aku benci kalau setiap
pagi terus-menerus menunggu kepastian apakah kau masuk sekolah hari ini atau
tidak. Aku juga benci merasa senang dan senyum-senyum sendiri memperhatikanmu menuruni tangga menuju kelas setiap pagi. Ah sudahlah, sudah pernah aku
ceritakan padamu soal ini. Aku benci selalu bertanya-tanya sendiri dan
khawatir kalau kau tak sekolah hari itu.
Aku
benci gemuruh hatiku jika telepon berdering, lalu menebak, dan selalu saja
menebak-nebak apakah itu telepon dari kamu atau bukan. Dan jika itu benar telepon
dari kamu, Astaga! Aku benci terus saja memutar otak, sampai tanganku
berkeringat memikirkan harus menyapamu seperti apa, astaga! Astagaa! Aku benci bersemangat
memaksa diri mencari kata-kata lucu agar kau bisa lebih lama bicara denganku.
Aku
benci sebelum tidur memikirkanmu terlebih dahulu, sambil memahami sensasi rasa
yang mulai mengembang dari dada, dan menjalar, merambat ke seluruh tubuh. Lihatlah,
sebelum tidur segenap tubuhku menyebut namamu serentak. Aku benci ini.
Soal
bangun tidur? Huh, jangan kau tanya. Mungkin ini bagian yang paling aku benci. Saat
mulai bangun dan membuka mata setiap pagi, aku langsung saja teringat dan
menyebut namamu. Tidakkah? Seharusnya? Ketika bangun tidur harus diawali dengan
bersyukur padaNYA, karena sudah dikasih bonus menjalani satu hari lagi? Cih,
kau tahu, pikiranku malah bicara begini “Bukankah mengingat ia, menjadi salah
satu perwujudan rasa syukurmu? Bukankah menyebut nama yang indah dan mengingat
wajah bercahayanya merupakan perwujudan rasa syukurmu mengawali hari terhadap ciptaanNya?”.
Ya
ampuun, W.
***
Jatuh
hati, itu yang paling aku benci. Aku benci jatuh hati padamu. Beginilah aku,
rasaku menggebu-gebu padamu. Ia ada dibalik segala rasa takut, rindu, kikuk dan
canggung yang bertarung dan meledak pelan lewat tulisan ini padamu.
W,
aku takut pada satu kata yang ada di seberang kata benci itu.
***
2 comments:
janji ya, nanti di suratmu yang lain, kamu akan memberi tau aku siapa W. huiauaua
-ika, tukangpos
Iya, kak..nanti diakhir program kita lihat apa bisa kita buka siapa W ini sebenarnya... mihihi.. #nyengirkuda
Post a Comment