Untuk Emma, Indonesia Menunggumu

Gambar Emma Watson dari sini
Dear Ms. Watson
Aku menulis surat ini dengan rasa kegirangan yang ndeso sekali, seolah-olah setelah menulis surat ini aku akan mendapat tiket eksklusif Hogwarts Ekspres yang akan mengantarku langsung ke depan rumahmu. Hari ini aku menantang keberanianku untuk menulis surat padamu. Kau tak usah bertanya pada asisten-asistenmu siapa orang yang berani mengirim surat ini. Tapi jangan buru-buru juga meremukkan dan membuang surat ini ke tong sampah. Kau tak akan bisa membayangkan bagaimana ruwetnya pikiranku dan tak tenangnya tidurku semalaman, memikirkan bagaimana aku akan merancang dan menuliskan surat ini padamu. Oh, satu yang engkau perlu tahu, bahwasanya aku jamin surat ini diantar langsung oleh pos yang terbaik se-Republik Indonesia, plus dengan burung hantu posnya yang bernama Hedwig. Jadi surat ini dijamin bebas dari zat dan virus-virus berbahaya.
Kau tahu, semua itu aku lakoni agar aku bisa menyampaikan apa-apa yang kurasa perlu kusampaikan padamu. Salah satunya ialah bagaimana perasaanku padamu. Kau tahu, perasaanku ini sudah seperti burung hantu saja, setiap malam apalagi di malam yang sepi dan sunyi, hatiku ingin keluar dan terbang menuju tempatmu nun jauh di utara sana. Terbang tinggi menuju tempat yang mesti ditujunya. Ke tempatmu, itulah tujuan burung hantu hatiku. Dan karenanya hari ini kupikir saat yang tepat aku mengatakan semuanya padamu.
Aku mengenalmu sudah cukup lama, aku mengenalmu sejak hari pertama masuk sekolah, pun memperhatikanmu ketika dihari-hari sekolah berasrama itu, kau akrab dengan dua orang temanmu yang itu-itu saja. Oh ya, siapa dia namanya yang berambut merah dan selalu terlihat agak ceroboh itu? Ronald bukan ya? Dan satu lagi temanmu, aih, siapa yang tidak kenal dia, pria berkacamata bundar dan memiliki codetan seperti petir di jidatnya, Harry Potter. Bagaimana kabar ia sekarang, masih suka bermimpi burukkah?
Layaknya pria yang ingin mendekatkan diri dan memperkenalkan dirinya pada seorang wanita—apalagi spesial—sepertimu, pertama-tama aku akan mengenalkan siapa diriku sebenarnya. Nah untuk pertama, aku akan mengenalkan siapa diriku, akan berawal dari manakah aku berasal. Aku meyakini kau sedari tadi sudah penasaran dari mana surat ini asalnya, apalagi dengan bahasa tulisan yang tak kau pahami ini. Baiklah, simaklah betul-betul tulisanku berikut ini.
Emma,—bolehkan aku memanggilmu dengan nama depan saja?—Begini, kau pernah mendengar Negara yang namanya Indonesia. Ia negaraku, sebuah Negara kepulauan yang terletak di timur jauh negaramu, Indonesia terletak di garis khatulistiwa, iklimnya tropis. Mungkin suatu hari saat liburan Natal kau bisa mengunjungi negaraku. Banyak orang-orang dari belahan duniamu menghabiskan waktu liburan musim dinginnya di negaraku.
Jika suatu saat engkau berkeinginan liburan ke Indonesia, kusarankan pergi liburannya ke kampungku saja. Kampungku terletak di jantungnya pulau Sumatera. Sebuah pulau misterius yang katanya disana terdapat kingkong raksasa seperti yang digambarkan teman-temanmu di Holywood. Kampungku persis ditengah-tengahnya pulau Sumatera itu, dekat sekali dengan garis lintang 0, garis khatulistiwa. Kau terbiasa dengan cuaca yang subtropis bukan? Yang tak setiap harinya bisa mendapatkan Vitamin D gratis dari sinar matahari? Maka kalau kelak kau berkunjung ke kampungku di pulau Sumatera, kau seharian akan terpapar cahaya matahari. Kupikir untuk orang-orang dari utara seperti kamu, mendapatkan matahari akan menjadikan kulitmu lebih berwarna dan, lebih eksotik bukan? Kuyakin ini satu keuntungan di dunia kerjamu.
Emma, kusarankan lagi, kalau kau benar-benar mau pergi berlibur ke Indonesia, penerbanganmu tak usah berakhir di bandara Soekarno-Hatta, langsung saja ke kampungku di Sumatera Barat, disana bandaranya sudah bagus dan berkelas internasional. Dari Singapura sudah ada penerbangan langsung ke kampungku. Kenapa aku tak menyarankanmu ke Jakarta dulu, meski Jakarta merupakan Ibukota Negara Indonesia, karena kalau kau ke Jakarta aku takutnya nanti kau bukannya bersenang-senang ketika liburan, nanti kau malah jadi stress melihat kacaunya Jakarta. Disana macet dan banjir seperti sudah menjadi hal yang biasa, apalagi polusinya, parah!. Aku jamin kau tak akan betah disana. Tapi, kalau memang terpaksa engkau harus mendarat juga di sana dan melihat kondisi yang namanya kota Jakarta, aku harap engkau tidak menganggap Jakarta itu gambaran Indonesia seluruhnya. Masih banyak daerah-daerah di Indonesia yang lebih tertib, nyaman dan beradab dibandingkan Jakarta. Salah satunya adalah daerah di sekitaran kampungku di Sumatera sana. Maka setelah terbang ke Jakarta, segeralah terbang kembali dan tujulah kampungku. Maka kau akan menemukan satu titik surga yang dibangun tuhan, di Bumi. Indah sekali.
Chrome Theme
Liburan dikampungku nanti, aku yang akan menjadi penunjuk jalanmu, secara sukarela saja, kau tak usah khawatir, aku tak akan meminta tagihan untuk itu.
Baiklah, Emma. Sampai disini dulu suratku. Aku tahu kau terlalu sibuk untuk membaca suratku. Kali lain aku kirimkan padamu surat yang akan menceritakan lagi siapa aku sebenarnya. Kau yang sabar ya menunggunya, tak perlu terlalu penasaran juga, karena aku usahakan untuk menulis surat padamu sesering mungkin.
Sebagai penutup, aku ingin memperlihatkan gambar berikut ini padamu:

Gambar Jam Gadang Bukittinggi dari koleksi Pribadi
Merasa kenal? Dikampungmu juga ada jam raksasa yang seperti ini bukan?
***
NB:
Emma, aku menulis surat ini memang dalam bahasa ibuku, bahasa persatuan dan kesatuan Negaraku. Tidakkah kau ingin mengunjungi Indonesia? Jadi dengan kau membaca tulisanku yang berbahasa indonesia ini, kurasa sudah merupakan langkah kecil dari sebuah langkah besar terhadap perwujudan keinginanmu ke Indonesia nanti. Satu pengetahuan kecil soal Indonesia. Oh, kalau asisten-asistenmu tak ada yang mengerti bahasa, kau bisa memanfaatkan google translate saja, ia sudah cukup baik menerjemahkan bahasa Indonesia ke dalam bahasa lain. Kau tinggal mentranslatenya kedalam bahasa Inggris atau Perancis yang kau kuasai itu. Atau kalau masih buntu membaca suratku ini, kau bisa meminta pertolongan temanmu Harry, ia menguasai bahasa ular alias Parseltounge bukan? Nah, bahasaku ada yang mirip dengan bahasanya itu, Padangtounge namanya. Mungkin ia mengerti dan bisa membantumu.
***

No comments: