![]() |
| Gambar dari sini |
W, jika kau
pernah mendengar dan ingat aku bicara begini, "W, Aku menggilai sekelompok band
anak muda dari Yogyakarta”. Lagu-lagu mereka mengikuti aku tumbuh mendewasa. Ini
satu telaah sederhana tentang syair mereka. Oh ya, mereka juga yang pernah kubilang, satu dari banyak pencipta soundtrack kisah perjalananku untuk pulang. Coba kau dengar tulisanku. Lihat dan
rasakan irama yang aku tuliskan dan, selami untuk siapa aku berkisah.
***
Coba kau
ingat, pernahkah kau menjanjikan aku sesuatu? Kau pernah, hanya kau tak ingat
saja barangkali, aku ingatkan kembali. Kau pernah, itu ketika kita belum bicara
soal sang kalah dan sang juara. Soal aku dan dia.
Jika kubilang
kau pernah jadi matahari untukku, kau tentu tak akan percaya. Itu strategi yang cukup
berumur tua, tak akan membuat kau terperdaya jika aku katakan begitu saja.
Kegelapan pernah jadi begitu akrab, ku jabat dan kurengkuh paksa, memaksa melepaskan erat. Berhenti
berharap, lalu menunggu gelap membuatku lelap. Kuharap itu selamanya.
Rasa itu
telah ku lepas. Kuserahkan pada matahari, biar ia bawa sampai senja dan
tenggelam, karam oleh malam. Sialnya, matahari tak pernah benar-benar dikurung
malam. Fajar akan membebaskanya. Kau fajar itu, coklat matamu itu cahayanya. Kaulah sang
kejora.
Baiklah,
biarkan aku pulang, sekarang. Kau tahu, kau tak akan pernah menyadari, kau yang begitu
memaksa aku untuk pulang, meski tak terucap, kau menyuruhku untuk pulang dan, menghilang. Berbalik
arah dan menerima kalah. Ia yang menang, menang dengan kau disebelah.
Ijinkan aku
bertanya, "Tapi, kenapa kau harus dengan ia? Haruskah? Ini yang lebih melodrama, aku menuntun dia ke arahmu, dan kau menjadikanya juara. Tak pernahkah aku jadi sang juara?
Mendekatipun tak pernah?"
Kau tanyakan
padaku, “Boleh, aku jadikan dia juara?” Astaga, tentu saja. Tak pernah terpikir
oleh ku berkata “tak usah” untukmu, kapan saja. Aku kalah. Dia juara. Kau mau aku berkata
apa?
Baiklah, ini
sepertinya akan bisa jadi drama sebenarnya, sebenar-benarnya drama. aku turuti saja,
sukarela.
Tak ada juara
kalau tak ada yang kalah. Aku kalah taklah karena mengalah, tak akan aku
bertarung untuk ini semua. Kau bukan hadiah. Bawalah dia.
Jadi, aku tak
dapat apa-apa..
***

2 comments:
:( kok gini banget kamu nasibnya. ayo cari W yang lainnn, jangan nyeraahhhh
-ika, tukangpos
siaaap!.. :)
Post a Comment