UNTUK W DARI SATU DEKADE YANG LALU

W,
Seharusnya surat ini ku kirim padamu sepuluh tahun yang lalu. Surat aslinya tak kutemukan lagi, namun kupaksakan diriku untuk mengais-ngais memori pada surat yang ku tulis pertama kali kutujukan padamu. Bacalah kalau kau sempat..
***
W, selayaknya seorang pemuja, aku ingin membuka surat ini dengan kata-kata yang bisa memukau kamu, namun hanya kutemukan satu kalimat sepele ini: Kau cantik hari ini di kelas.
W, kita satu kelas, kau tahu itu, tapi tampaknya kau tak pernah tahu atau kau tak pernah peduli padaku? Aku tak bisa membantah kenyataan bahwa setiap pagi aku selalu memanjang-manjangkan leher melihat ke arah gerbang sekolah, hanya untuk memastikan kau hadir di sekolah hari ini. Aku selalu lebih pagi sampai di sekolah dibandingkan kamu, bukan?
W, aku sering memperhatikanmu di kelas. Mungkin aku duduknya di sudut yang terlalu gelap—ini satu keuntungan bagiku, jadi kau tak tahu bahwa ada seseorang yang sedang melihatmu tiap lima menit sekali. Bisa aku pastikan, W, setiap lima menit ketika guru sedang menerangkan pelajaran di depan kelas, aku melirikmu. Itu otomatis saja. otomatis tanpa berpikir. Seolah sudah menjadi kebiasaan ku tiap sebentar musti melihatmu.
W, ketika pagi itu kau baru sampai di kelas, aku ingin menyangkal hatiku yang kesenangan ternyata kau masuk kelas hari ini, tapi tak bisa. Aku mesti memaksa diriku sendiri untuk menyembunyikan senyumku. Takut ketahuan kawan-kawan. Mudah-mudahan saja tak ada kawan kita yang menyadari petingkah aneh ku setiap pagi di kelas.
W, beberapa kali ketika momen kau masuk kelas setiap pagi, aku selalu berusaha untuk bicara denganmu, tapi itu tak pernah bisa. Sebelum bicara padamu pikiranku disibukkan oleh usahaku untuk mencari kalimat dan kata-kata lucu, sebab waktu itu aku sedikit tahu bahwa cara untuk membuat orang mudah suka padamu adalah kau harus bisa membuat ia tertawa. Usahaku untuk membuatmu tertawa ketika memulai pagi tak pernah berhasil, sebab ketika aku menemukan kalimat yang kupikir bisa digunakan, momen itu sudah hilang, kau sudah disibukkan oleh hal lain.
W, kau tahu, ketika kau masuk kelas pagi itu aku merasakan satu momen, kusebut itu momen kesunyian. Ini satu momen yang menyenangkan. Aku pernah membaca tapi lupa dimana pernah membacanaya. Kira-kira yang kumaksud dengan momen kesunyian itu begini: ketika kau sanggup memfokuskan pikiranmu pada satu hal maka hal-hal lain disekelilingmu akan mulai kabur diselimuti kabut, blur, bunyi-bunyian hilang, kulitmu tak bisa merasa, kebal. Setiap pagi itu yang kualami, W. ketika kau masuk kelas pagi itu, itulah momen ketika kau menjadi pusat segala aku. Aku tak bisa lagi melihat seorang teman yang mencoba bertanya soal PR padaku, aku tak bisa lagi mendengar teman-teman yang sedang menggosipkan wali kelas kita, atau menggosipkan sinetron semalam atau yang sedang membahas ulangan bahasa minggu kemaren. Aku juga tak bisa merasakan bangku merah tua yang sedang kududuki. Kau pusat segala aku, W. kau gravitasi yang menarikku jauh dan dalam.
***
Satu kalimat terakhir itu baru kutambahkan sekarang. Sekarang aku mengerti bahwasanya itu yang aku alami lebih dari satu dekade yang lalu. Baru sekarang juga aku mengerti mengapa aku tak sabar dan selalu menunggu kau terlihat setiap pagi di gerbang sekolah, agar aku segera bersiap untuk momen kesunyianku itu.

Sampai jumpa lagi, W. di suratku berikutnya..

gambar dari sini

7 comments:

Anonymous said...

Momen kesunyian yang menarik :) - tak sabar membaca suratmu besok untk W

eqoxa.wordpress.com said...

suratnya bagus aku suka. tapi si W selalu akan menjadi rahasia?

iTalkspace said...

Terimaksih kunjunganya, mruhulessin :)

iTalkspace said...

Terimakasih kunjungannya, eqoxa.
Mengalir saja, mari kita lihat apakah 30 hari kedepan kita memang harus menyebut nama lengkap W ini siapa.. :))

Unknown said...

Sungguh bruntung W ini.....

Unknown said...

Sungguh bruntung W ini.....

Unknown said...

Sungguh bruntung W ini.....