![]() |
W,
Pertama, kukatakan padamu, kita
harus waspada sama pos yang satu ini. Ia layak kita curigai, dan patut diperhatikan
gerak-gerik serta tindak-tanduknya. Kita tak pernah tahu apa saja isi kotak
posnya selain surat-surat yang musti dikirim itu. Ia menggunakan metode
mengirim surat yang unik dan baru kali ini kulihat. Aku juga pertama kali
menggunakan jasa dia. Baiklah, W. Nanti aku coba kenalan dan membuka dialog
dengan tukang pos ini, mudah-mudahan aku mendapatkan informasi yang berguna. Semoga
di surat ku yang selanjutnya aku bisa ceritakan bagaimana hasilnya.
Kedua, Kadang mesti aku akui
juga menulis surat untukmu dan jelas tanpa melihatmu langsung ketika
membacanya, dan hanya membayangkan lirih suaramu yang sedang membaca surat ini.
Rasa-rasanya ada yang janggal saja.
Surat ini surat permulaan. Jadi rencananya
selama paling tidak sebulan ini, aku akan lebih rajin menulis surat untukmu. Aku
ingin menantang diriku sendiri, W. Menantang diri untuk konsisten dan berkomitmen
menulis selama sebulan. Mengingat aku akan menulis dan ditujukan padamu, kuyakini
aku tak akan mendapat banyak kesulitan menulis surat-surat ini, kelak.
Disurat-suratku nanti, aku
barangkali akan menceritakan banyak hal yang terjadi disekitarku, mungkin perasaanku,
pekerjaan dan karya-karya ku di kota ini, mungkin hal lainnya, apa saja. Oh ya,
mungkin satu waktu aku akan cerita usahaku mendapatkan sertifikat kependekaran
dari sekolah silat yang sedang aku ikuti di kota ini. Iya, selain bekerja, aku
juga mendaftar di perguruan silat yang terletak di sisi barat kota ku sekarang.
W, aku menantang diriku sendiri
untuk persisten menulis setiap hari paling tidak 300-500 kata/hari. Kau tahu,
kecepatan menulisku rata-rata 200 kata/5 menit. Jadi, dalam waktu kurang dari
15 menit kutaksir aku bisa menulis satu surat yang cukup panjang untukmu.
Aku bermaksud akan menulis surat-suratku
nanti apa adanya saja. Aku ingin menulis seperti aku biasanya bicara padamu,
aku berniat ketika kau baca suratku ini kau bisa merasakan kehadiranku, seolah
aku sedang bicara dan ada dibelakangmu, sambil memijit lembut bahumu.
Mungkin satu hari aku akan
menulis suatu hal gombal yang sepele padamu, seperti ini:
Aku : “Hei, W. Boleh aku pinjam Tab mu, sebentar?”
W : “Ha? Buat apa?”
Aku : “Aku mau mention twitternya Bapakku, dan
bilang “aku menemukan bidadari itu, pak””
(Mestinya
sewaktu membaca ini, kau juga sedang membayangkan aku menatapmu, dalam)
Romantis
kah, W?
Atau
ini satu lagi.
Aku : “W, Bapakmu tukang gigi, ya?”
W : “Ha? Memangnya kenapa?
Aku : “Karena kamu telah membehel hatiku”
Bagaimana, W? Lucu kah? Oh,
baik, baiklah, baiklah baiklah sama sekali tidak lucu ya? Kubayangkan kau mulai
terlihat mual membaca tulisanku, W.
Kuharap, kau tak apa ketika
menerima surat-suratku kelak, atau kau malah jadi mual dan muntah benaran? Aih,
semoga saja itu tak terjadi.
Aku ingin menulis surat untukmu
setiap hari, tanpa henti. Tampaknya itu tak bisa, W. Pos yang aku minta tolongi
buat mengirim surat ini ke kamu mewajibkan aku sewaktu-waktu juga menulis surat
untuk selain kau. Aku tak tahu maksudnya, untuk apa coba?
Sampai disini dulu, W. Kita lihat
besok, ada cerita apa..
Sincerely
RTL
Gambar diambil di sini

3 comments:
wow, aku suka tulisan ini :D
- ika
wah, terimakasih, ya. selamat membaca dan menulis @eqosa :)
Mmmm......
Jd awal'y gtu ya sob....????
Sungguh sbuah prjuangan...
Brhrap bsa happy ending :);)
Post a Comment