Untuk W, dan Tiga Kata

Gambar dari sini
W, kuberi tahu, disurat kali ini aku menulis cukup panjang. Jika kau tidak sedang sibuk dan sedang ada waktu luang, bacalah suratku ini.
W, tadi subuh aku sengaja mengubungimu, setelah bicara soal-soal lain, selanjutnya aku menanyakan “apa tiga kata yang saat itu sedang terlintas dipikiranmu?” Awalnya kau menolak, setelah aku bujuk, akhirnya kau menyebut kata Tablet, Pink dan satu lagi kata tak senonoh yang kurasa tak pantas jika aku tuliskan disini. Kupikir kamus manapun di dunia ini tak pernah memuat kata itu kedalam kumpulan kamusnya. Demi “keamanan nasional” aku ganti saja kata itu dengan kata, kucing. Jadi disini kita punya tiga kata “Tablet, Pink dan Kucing”.
Hari ini aku menggunakan alat bantu agar menulis cepat. Alat bantu itu adalah “strategi tiga kata”. Ya, aku hanya membutuhkan tiga kata untuk membuatku menulis mengalir cepat. Dan sekarang aku akan menggunakan tiga kata yang aku tanyakan padamu pagi tadi. Strategi ini aku dapatkan dari seorang guru menulis. Namanya A.S. Laksana. Ia seorang guru tentang kepenulisan yang baik dan hebat menurutku.
Baiklah, ini tulisan yang aku buat drafnya hanya 15 menit. Strateginya, aku menulis cepat, cepat secepat-cepatnya. Entahlah ini bisa disebut apa, apa cerita, sinopsis cerita, atau apapunlah..
***
10 Januari 2054. Laboratorium Nanobioteknologi Massachusetts Institute of Technology (MIT), Cambridge Massachusetts, USA.
“Sebentar lagi, Nadya, hasil karyamu akan mengubah pendapat dunia dalam melihat kanker” Kata seorang professor tua yang menggunakan baju lab putih.
“Iya, prof, semoga arwah ibuku disana berbahagia, melihat hasil kerja anaknya. Ia yang membuatku menemukan ini.” Jawabya berbinar “Dan bukan hanya aku, Prof. Kau juga. KITA akan menyelamatkan banyak jiwa dengan teknologi ini”
Pembicaraan itu terjadi sebelum uji coba dilakukan. Sebelum semuanya menjadi kacau tak terkendali, membuat semua orang yang ikut menyaksikan uji coba terkejut dan menimbulkan kepanikan di salah satu Lab sekolah terbaik didunia itu.
***
15 Februari 2054. Pesisir selatan sebuah desa nelayan, Pangandaran, Indonesia. 
Tablet yang selama ini menjadi kawan karibnya, raib. Ia tak tahu keberadaan satu-satunya barang elektronik yang sekarang ia punyai. Tabletnya diketahui raib setelah ia pulang lari pagi ke pantai pagi ini. Tinggal di desa sunyi, ia benar-benar memaksa diri untuk tidak berhubungan dengan dunia luar, dunia nyata dan dunia maya. Selama 23 hari terakhir ia diburu agen rahasia Negeri Paman Sam. Gara-gara satu penemuan celaka di lab nanobioteknologi MIT membuat ia harus bersembunyi di desa pinggir pantai ini. Entah sampai kapan.
Ia punya kecurigaan, yang menyebabkan tabletnya lenyap tanpa bekas ada unsur keterlibatan kodok-kodok yang beberapa hari ini berisik di sekitar rumahnya. Bahkan ada bisa masuk ke kamarnya. Entah bagaimana cara kodok itu bisa masuk. Ia sejak awal sudah curiga kodok itu mata-mata kiriman. Kenapa di desa sepi pinggir pantai ini tetiba saja banyak kodok? Apakah sekarang ciptaan bisa mengganggu penciptanya?
Profesor Urman, itu nama Profesor yang beberapa minggu lalu masih menjadi sahabat sekaligus pembimbing di MIT. Sekarang Profesor itu memburunya dengan bantuan CIA untuk mendapatkan formula dan logaritma super rahasia yang berpotensi mengubah rupa bumi selamanya. Ia dan mantan kawan karibnya ini sebulan yang lalu telah menghebohkan dunia sains dan teknologi.
Hasil temuannya itu tampaknya sekarang telah menjadi pendukung musuhnya. Hal ini ia ketahui setelah melihat kodok-kodok itu. Ternyata kodok itu adalah nanobot biologis yang dikirim mantan temanya itu. Seperti film Robocop yang pernah begitu ramai ditonton berpuluh-puluh tahun lalu, sekarang hal itu telah jadi kenyataan. Formula dan nano teknologi itu baru bisa dipraktekkan pada kodok, masih dalam tahap percobaan.
Kodok percobaan itu tak akan bertahan lama sebelum kehabisan tenaga dan mati. Kodok yang ia tangkap menjelaskan hal itu. Ia menangkap satu kodok tiga hari yang lalu dan ia letakkan ke dalam mug berwarna Pink, mug cantik hadiah ulang tahun dari anaknya beberapa tahun yang lalu. Kemarin sore, setelah dua hari dikurung di dalam mug, kodok itu mati dengan tubuh menyusut hanya menyisakan kulit seperti bunga yang layu. Disinilah ia menyadari ternyata Profesor itu berhasil memperbaiki nano teknologi itu meski belum sempurna.
Oh, astaga! Bagaimana kalau sang professor gila juga mempraktekkan nano teknologi ini pada makhluk hidup lain, pada kucing, ular, burung, ikan atau bahkan pada manusia, pada teroris atau presiden suatu negara?
Teknologi itu berupa nanobot pintar yang bisa “menyelam” ke dalam aliran darah manusia, sampai pada pembuluh-pembuluh darah paling kecil. Dilengkapi dengan pengisi daya nano yang bisa mengisi ulang tenaga sendiri, kamera nano dengan High Definition. Dan tangan laba-laba kecil yang bisa menembak dan mematikan sel-sel kanker jahat. Serta antena yang menghubungkan nanobot ke sistem pengendali di laboratorium. Namun teknologi itu belum sempurna, nanobot itu ternyata menguasai dan menjajah sistem mandiri di tubuh makhluk yang dimasukinya dan kemudian betul-betul menjadi robot biologis yang dikuasai oleh ruang pengendali di laboratorium MIT atau sekarang mungkin sudah dipindahkan ke Langley, markas CIA? Kabar baiknya robot itu belum sempurna, ia terlalu banyak mengkonsumsi energi hingga menghancurkan tubuh “inangnya” sendiri, seperti yang tejadi pada kodok berisik dibelakang rumah yang ia sewa.
Robot nano yang awalnya dimaksudkan untuk menyembuhkan kanker, sepertinya telah disalahgunakan untuk kepentingan satu negara adikuasa untuk menguasai Negara lain.
Dan bagaimana soal tablet? disana disimpan formula logaritma rahasia sistem pengendali nanobot yang salah satunya bisa membuat robot nano itu mengkunsumsi energi lebih hemat dan irit sehingga inangnya lebih lama bertahan hidup. Mungkin, astaga sampai misi selesai? Apa pula misinya?
Ia menyadari sekarang, tablet itu harus segera ditemukan bagaimanapun caranya. Meskipun telah diberi sandi dengan enkripsi berlapis-lapis, itu bukan jaminan yang bagus jika formula itu jatuh ketangan Profesor gila Urman.
Ia harus segera bertindak…
***
W, begini kata A.S. Laksana, “Kenapa tiga kata bisa membuat anda menemukan cerita? Sesungguhnya itulah keajaiban otak anda. Perangkat ajaib di dalam kepala anda itu memiliki kemampuan berasosiasi. Ia bisa merangkai hubungan dari hal-hal yang tampaknya tidak saling berkaitan. Coba anda hubungan panci dengan kendaraan bermotor, maka otak anda akan memberi tahu bahwa panci bisa anda gunakan sebagai helm pengaman. Hubungkan panci dengan penjahat, maka otak anda akan memberi tahu bahwa panci bisa digunakan sebagai alat untuk memukul penjahat. Panci dan pesawat terbang? O, panci dalam jumlah yang banyak bisa digunakan untuk membuat badan pesawat terbang. Kecerdasan otak anda untuk berasosiasi itulah yang dirangsang bekerjanya oleh tiga kata yang dipilih secara acak. Satu paragraf, anda tahu, selalu berisi satu pikiran utama. Ketika anda dipaksa untuk memasukkan tiga kata acak itu dalam satu paragraf, maka anda dipaksa untuk menggunakan tiga kata acak itu untuk menyusun kalimat-kalimat yang menopang satu pikiran utama. Hasilnya adalah sebuah cerita yang anda sendiri tidak pernah menduga sebelumnya.”
Jenius bukan strateginya? Strategi ini telah membantuku menulis sangat cepat dan membuat aku bisa membikin satu tulisan yang bahkan tak pernah aku bayangkan sebelumnya hanya dengan modal tiga kata…
***
Nah, W. Selain kamu, aku juga punya tiga kata, tapi belum begitu tau apakah kata-kata ini bisa dikembangkan menjadi sebuah cerita. Tergantung kamu juga sebenarnya.
Kata itu adalah, “AKU, KAMU dan—ehm—CINTA…”
Bagimana menurutmu, W. Kira-kira bisakah tiga kata itu dikembangkan jadi sebuah kisah?
***

2 comments:

Anonymous said...

bagus. ini hasil pikiranmu sendiri kan? karena jika aku menemukanmu menyadur dari manapun, aku akan memberhentikanmu dari proyek menulis ini. ^^
ika, tukangpos.

iTalkspace said...

Wahh..ga mungkinlah kakak posku yg baik.. Mana berani aku nulis disini yg bukan ide ku sendiri.. Kakak tenang saja, kalau aku menyadur, pasti aku lampirin sumber kok. Kadang aku memang nulis dengan menggunakan cara mengambil sudut pandang sama dengan pengambilan sudut pandang seorang penulis lain, atau ide yg sama tapi dengan sudut pandang yg beda. Begitulah, caraku belajar menulis selama ini, bukan dengan mengambil tulisan & menyadur tulisan mereka dan mengklaimnya jadi tulisanku sendiri. Percayalah... 😍