![]() |
| Gambar dari sini |
W,
Kau pernah
mendengar istilah Writer’s Block? Aku
kurang tahu apa padanan dalam Bahasa Indonesianya, mungkin artinya menjadi ‘hambatan
penulis’ atau ‘tembok penulis?’. Maafkan, aku tak begitu cakap menerjemahkan
kata-kata, aku hanya mencoba memahami maksudnya dan, barangkali ini maksudnya, istilah
Writer’s Block adalah suatu kondisi
yang membikin diri tak mampu menulis, seolah pikiran sang penulis terhalang
tembok tebal, sehingga kertas atau layar komputernya tetap kosong melompong, dan
ia pun bengong sekian lama. Kehilangan ide tulisan.
Kata beberapa
laman internet yang aku baca, bahkan seorang penulis berpengalaman pun, berpotensi juga mengalami kondisi ini. Ia seperti tak peduli meskipun jam
terbang sang penulis sudah tinggi sekalipun.
Apatah aku,
W? Jika hantaman Writer’s Block hanya
datang sekali-sekali pada penulis professional, mungkin pada penulis amatiran
seperti aku, lebih sering mengalami gejala itu daripada mengalami keadaan
setengah mabuk, karena kepala dipenuhi ide-ide tulisan yang brilian.
W. Aku punya
satu kecurigaan. Kupikir Writer’s Block
ini tak ada sebenarnya, ia hanya semacam pembenaran untuk menutupi kemalasan
dari sang penulis menggali ide, membaca bahan atau melakukan penelitian. Tapi tak tahu jugalah, W. Aku ini masih penulis ecek-ecek, bahkan untuk Writer’s Block ini saja, aku belum punya
cukup pengetahuan dan pengalaman.
Jadi, jujur
saja kukatakan, saat ini kemungkinannya aku mengalami gejala yang aku ceritakan
diatas. Aku seperti sedang tak tahu mau menulis apa. Bahkan menulis surat
untukmu yang biasanya membuat semangatku memuncak, sekarang seakan energi itu
disedot entah kemana. Aku kehabisan ide, jariku susah untuk digerakkan diatas papan
ketik. Mungkinkah targetku mengirim surat setiap hari selama sebulan penuh
padamu terhenti sampai disini saja? Apakah aku hanya mampu mengirimimu surat
setengah dari target? Duh, aku tak mau, W. Aku tak mau itu terjadi.
Huh, baiklah,
W. tampaknya aku musti memaksakan jari ini untuk menulis. Tak peduli apa yang
mau ditulisnya, pokoknya tulis!! Apa kata yang terlintas di depan kening, tulis!! Tak
boleh berfikir, pokoknya tulis!!
Huff, beri
aku waktu sebentar untuk menarik nafas dan mengambil ancang-ancang…
….
….
….
….
***
![]() |
| Gambar dari sini |
Jika
kuceritakan satu rahasia kecil padamu, maukah kau mendengar dan menyimpannya
untuk dirimu sendiri?
Awalnya,
Ini rahasia
kecil itu, coba kau lihat arah utara, kau lihat lilin kecil merah redup itu?
Disanalah ia. Ia lilin yang membuatku melakukan pertarungan besar disini.
Pertarungan itu
menghanguskan separuh badan, pertarungan yang membikin diri lancung di ujian.
Tak pernah lagi dipercaya selama hayat dikandung badan, itu kata orang dari
negeri selatan.
Menurutmu
tidakkah ia butuh bantuan? Setangkup tangan yang menutup dari angin yang
menderap, agar ia tak lindap dan kemudian lenyap. Aku mengambil sikap, memberi
bantuan, yang kemudian kusesalkan.
Perhatikan
ini, kau tak butuh banyak cahaya di sini. Cukup satu cahaya putih, kau
lindungi, sampai mati. Meski ia sengaja menjalari dan membakari tangkup
tanganmu, tetap mendekat dan tutupi ia dari angin yang kadang membuat nyeri
hati. Terima saja. Satu kali kau keliru maka satu kali sangksi untukmu. Pilih
saja satu untukmu.
Akankah
sampai akhir dunia kata mendua selalu saja membuat akhir kisah ada neraka?
Meski orang dari utara yang sengaja melekatkan kepunggungnya kata mendua? Ah,
biarlah, paling tidak punggungnya bisa dibilas ganasnya api neraka, habis tak
bersisa hingga tanpa jelaga. Aku bersedia.
Akhirnya,
Ia menarikku
keluar, agak kasar, Ia menarik tanganku keras hingga meninggalkan jejak dan
membekas.
Ah, jejaknya
bukan di depan gelang tangan. Ia disini, di dada ini, lihatlah
Hati dan dada
siapa yang tak remuk redam. Iya, iya aku yang membikin ruwet tak tentu
arah. Hancur sudah. Hancur jadah.
***
W.
Rasa-rasanya ini surat yang terberat aku bikin untukmu. Seperti usai dari satu
pertarungan saja agaknya. Lelah, tapi membuat lega. Tapi ya sudahlah. Yang sudah biarlah sudah.
Semoga kau
tak lelah membacanya. Maafkan aku…
***


No comments:
Post a Comment