“Hati-hati,
kalau nonton yang begituan, keterusan nanti” Katanya. “Kau itu, ada tampang
jadi lelaki melankolis”
Itu peringatan
seorang kawan ketika awak sedang gandrung-gandrungnya nonton sinetron
cinta-cintaan di escetepe, acaranya jam setengah
sepuluh pagi, setiap hari kecuali minggu.
Dalam kata “melankolis”
itu, awak membayangkan diri awak sendiri sedang memakai baju kaos oblong putih
tipis kerah V belahan rendah, puting-puting mencuat samar, sedang bercanda dan
meledek teman seorang pria muda penggila wanita yang lebih tua. Asta-asta-astagfirullah!
Awak tak siap dan tak akan pernah mau jadi seperti itu!
Kesini-sininya
kata itu tidak terlalu “horor” lagi dalam bayangan awak sendiri. Ia berubah
makna seiring ruang dan waktu yang awak tempati dan hadapi. Ia bertumbuh dan
berkembang membangun identitasnya sendiri.
Tiga minggu
yang lalu kata itu berubah wujud menjadi satu perintah untuk bertindak, tindakan
tunggal yang menuntut awak pribadi untuk jujur dan jadi diri sendiri saja. Kata
itu muncul dalam satu monolog. “Kalau kau terlalu terpukau pada sesuatu,
Tal. Ungkapkan atau tulis sajalah. Jangan pedulikan jika kata-katamu terlalu
mendayu-dayu atau keperempuan-perempuanan. Haram jadah dengan ego
kejantan-jantanan. Jujur saja apa adanya.” Oh ya, ada tambahan “Meskipun jatuhnya,
4L4y dan malu-maluin”
Karena melankolis—puji
syukur—awak mendapat rangking 3 dan diganjar
1 device centil dari Nokia. Satu unit Windows Phone Nokia Lumia 520.
Tiga minggu
lalu awak mengikuti kontes menulis yang diadakan @microsoftid dan @CHIPindonesia.
Biar tidak
dikatakan info HOAX, sila dibuka tautan pengumunan pemenang di sini dan di akun twitter awak sendiri di sini J
Dan untuk
tulisan alay melankolisnya, sila buka tautan ini atau baca saja yang dibawah, sama saja.
SURAT CINTA UNTUK NOKIA LUMIA 720
Dear Lumia,
Seperti halnya setiap
perayu ulung yang ingin memukau sejak paragraf pertama, itu pula niatku meski
akhirnya hanya kudapatkan kalimat yang sepele: Jika kukatakan aku selalu
menginginkanmu, sungguh, bohong itu. Kadang aku membencimu. Tetapi, harus
bagaimana? Benciku selalu kembali membuatku semakin menginginkanmu. Untukku,
menginginkan atau membencimu hanya soal cara, dengan menginginkanmu, kau selalu
tersemat di dadaku. Dengan membencimu, di pikiranku kau selalu ada.
“Setiap orang berhak
memilikiku,” katamu.
“Ya, tentu saja.”
sahutku pelan. “Kau tahu, kubisa melihatnya dari cara tegak berdirimu dan aura
yang kau pancarkan. Penciptamu memang sudah bersabda bahwa: We didn’t make one for all of us, we made
one for each of us.”
Lumia, aku sering
melihatmu ada di genggaman orang lain. Dan, kau mampu membuat mereka berubah.
Ku yakin auramu yang mengubah mereka. Aku juga ingin kau bikin seperti itu.
Ketika kau ada di genggaman orang lain, itu selalu saja menerbitkan cemburu
buatku.
Sebegitu hebatkah kau
hingga mampu mengubah gambaran diri seseorang? Astaga, tentu saja kau bisa
melakukannya secara enteng. Tidakkah kau diciptakan tujuannya memang untuk itu?
Ku percaya.
Aku menggerutu ketika
kau ada di genggaman mereka. Mereka terlihat penuh inspirasi ketika kau memancarkan
aura biru dari dirimu. Mereka juga akan memancarkan kesan penuh kedamaian,
ketika kau pancarkan aura putih. Ketika aura merah, mereka akan terlihat penuh
energi dan siap berjuang menantang hari. Dan kau tahu, aku akan menjadi gila
dan menahan napas ketika kau memancarkan aura kuning. Kau terlihat bergairah
dan penuh imajinasi. Ku ingin menjadi orang itu. Apa boleh buat, aku
menyukaimu, terus mau bagaimana lagi, aku menggilaimu.
Apabila nasib sial bisa menyerang tiba-tiba, demikian juga dengan keberuntungan. Hari itu aku iseng jalan ke salah satu town square di Depok. Niatku ingin membeli satu buku yang baru saja diluncurkan. Trilogi terakhir Negeri Lima Menara besutan A. Fuadi. Aku penasaran bagaimana akhir kisah perjalanan Alif—dengan mantra ajaibnya: siapa bersungguh-sungguh akan berhasil—yang menjadi tokoh utama di novel itu. Saat berjalan masuk aku melintas di depan tempatmu sebelah kanan fastfood Jepang. Disana aku pertama kali melihatmu dalam balutan aura kuning cemerlang. Kau mesti tertawa melihat petingkahku waktu itu. Petingkah semacam bocah 14 tahun yang baru menemukan dan langsung tergila-gila dengan cinta monyetnya. Mau tapi malu, malu tapi mau. Maka, dengarkanlah wahai Lumia, aku bersungguh-sungguh untukmu.
Apabila nasib sial bisa menyerang tiba-tiba, demikian juga dengan keberuntungan. Hari itu aku iseng jalan ke salah satu town square di Depok. Niatku ingin membeli satu buku yang baru saja diluncurkan. Trilogi terakhir Negeri Lima Menara besutan A. Fuadi. Aku penasaran bagaimana akhir kisah perjalanan Alif—dengan mantra ajaibnya: siapa bersungguh-sungguh akan berhasil—yang menjadi tokoh utama di novel itu. Saat berjalan masuk aku melintas di depan tempatmu sebelah kanan fastfood Jepang. Disana aku pertama kali melihatmu dalam balutan aura kuning cemerlang. Kau mesti tertawa melihat petingkahku waktu itu. Petingkah semacam bocah 14 tahun yang baru menemukan dan langsung tergila-gila dengan cinta monyetnya. Mau tapi malu, malu tapi mau. Maka, dengarkanlah wahai Lumia, aku bersungguh-sungguh untukmu.
Andai kau tahu, saat
itu, sejak itu dan hingga sekarang, setiap kali aku melihatmu Lumia, hatiku
serasa di setrum listrik PLN, setrum asmara. Yaa, aku tahu, aku tahu,
kata-kataku barusan atau sebelumnya, bahkan mungkin yang sesudah ini layak
masuk gerobak sampah organik, atau masuk nominasi lima besar kata-kata populer
yang bakal membikin isi lambung pembaca keluar dalam tempo yang
sesingkat-singkatnya. Tapi, sekali lagi, mau bagaimana lagi, itu yang
kurasakan.
Di dirimu, kulihat ada paradoks. Kau rapuh, tapi tergorespun kau tak akan bisa. Entah sebegitu rapuhkah engkau? Sampai ada dari mereka menggenggam dan mengusapmu dengan, sarung tangan?
Di dirimu, kulihat ada paradoks. Kau rapuh, tapi tergorespun kau tak akan bisa. Entah sebegitu rapuhkah engkau? Sampai ada dari mereka menggenggam dan mengusapmu dengan, sarung tangan?
Paradoks yang lain,
kau masih muda, namun diantara sebaya kau yang paling memesona. Matamu tidak
besar, namun abadi merekam satu senyum jernih cemerlang, bahkan senyuman yang
tak benar pun kau mampu membereskan. Dengan tubuh setipis dan selangsing itu,
kau menyimpan energi yang luar biasa. Pernah kucuri dengar dari mereka, kau
mampu melayani lawan bicaramu lebih dari 13 jam, itu lebih dari setengah hari,
kau tahu. Atau kau mampu bertahan 4 hari tanpa tambahan asupan energi apapun
meski tetap bekerja. Terakhir, Kau baru sampai di negara ini, tapi sepertinya
kau sudah bisa menunjukan dimana restoran yang enak atau toko sepatu yang
sedang diskon gila-gilaan.
Daftar ini bisa kuperpanjang sebenarnya, karena kau terlalu berbeda, cakep dan nyentrik untuk tidak ditaksir, tapi aku lebih senang menyatakan bahwa kau Lumia, adalah keindahan.
Daftar ini bisa kuperpanjang sebenarnya, karena kau terlalu berbeda, cakep dan nyentrik untuk tidak ditaksir, tapi aku lebih senang menyatakan bahwa kau Lumia, adalah keindahan.
Depok, 2013

No comments:
Post a Comment