Ki Ageng Murphy Dan Kenakalannya

Lagi, kecurigaan awak selama ini terbukti. Bahwa orang barat gemar memikirkan apa saja, membahas apa saja dan kemudian menuliskannya menjadi sebuah penelitian, bahkan bisa menjadi dalil yang universal. Kali ini sang bule awak panggil saja namanya Ki Ageng Murphy.

Tulisan ini tentang beberapa kejadian sehari-hari di sekitar, dan kaitannya dengan belitan dalil Murphy. Kalau kau pernah mendengar dalil ini, mungkin kau sudah bisa menebak ke arah mana tulisan ini bergerak. Bagi yang baru pertama kali mendengar, sabarlah sebentar. Atau, kau bisa menghentikan bacaan sementara di sini dan melongok Wikipedia.

Kawan, kau pernah mengalami ini?

Ketika kau tergesa membuka pagar, ada kemungkinan gemboknya akan ngadat. Dalil Murphy—Jika sesuatu bisa jadi berantakan, biasanya pasti akan—pun menimpa. Kunci yang biasanya digunakan sama sekali tidak bisa membuka gembok meski dicoba terus menerus, baru atas pertolongan teman pagarnya kemudian bisa membuka. Jadi dalil Murphynya: semakin kau berkutat membuka gembok, semakin tidak mau ia membuka.


Ada lagi di bidang transportasi. Kalau kau sedang terburu ke kampus, angkot yang kau tumpangi berlama-lama dulu singgah di SPBU.

Atau dejavu berikut. Begitu kau selesai mencuci baju hujanpun turun, padahal berhari-hari kau tidak mencuci cuaca panas terik. Jadi dalil Murphynya berbunyi: Mencuci baju, identik dengan ritual tarian hujan orang Indian yang memanggil dewa hujan.

Atau kejadian yang dialami seorang kawan baru-baru ini. Di kunjungan kesekian kali ke Blok M, ia berjanji untuk tidak kalap, ketika pulang malah ia yang paling banyak membawa kantong belanjaan.

Dalil Ki Ageng Murphy ini memang mencakup segala aspek kehidupan manusia dan kadang-kadang disertai pula dengan simbol-simbol matematika. Coba lihat salah satu ’rumus’ yang berbicara tentang kecantikan wanita ini.
”Cantik dari jauh = Jauh dari cantik.”

Ada pula yang bergaya ilmu statistik seperti: ”Semakin seksi seorang pria semakin tinggi probabilitasnya dia seorang gay.” Atau, “Semakin keterlaluan cantiknya seorang wanita, semakin tinggi probabilitas dia dulunya seorang pria.

Dan dalil soal dunia perpacaran: “Bila seorang lelaki ingin sang pacar mendengarkanya, dia tak mendengarkan. Bila lelaki itu ingin tidak didengar wanitanya, maka ia akan pasang telinga lebar-lebar.

Dalil Murphy (Murphy’s Law) memang tidak serupa dengan dalil kekekalan massa-nya Lavoisier, dibutuhkan batangan kayu yang dibakar untuk pembuktiannya. Atau dalilnya Archimedes, untuk pembuktian dalil ini kau perlu menceburkan diri dulu ke dalam bak mandi. Atau dalil-dalil lain yang membuat kening berkerut karena formula-formula ajaibnya. Maka dalil yang satu ini cenderung mudah dibuktikan, kadangkala membikin kita menertawakan diri sendiri. Dalil Ki Ageng Murphy ini tidak membutuhkan pembuktian empiris untuk mendukungnya. Namun akurasinya tak perlu diragukan lagi.


Dalil Murphy ini dipopulerkan pada tahun 1949 oleh seorang perwira Angkatan Udara AS bernama Kapten Edward Murphy yang ditugasi untuk melakukan penelitian akan kemampuan manusia menahan deselerasi mendadak, misalnya pada saat tabrakan. Maka lahirlah ungkapannya yang terkenal “If anything can go wrong, it will.” (terjemahan bebasnya: Jika sesuatu bisa jadi berantakan, dia pasti akan kejadian).

Dalil ini diartikan sembarangan sebagai dalil kesialan. Karena orang yang merasakan dalil ini dianggap merasa sial. Contoh lain:

Ki Ageng Murphy akan bertindak semena-mena ketika kau mau berkencan dengan kekasih atau selingkuhanmu yang sekian lama tak bertemu karena tugas keluar kota. Kau merasa sudah berdandan optimal, tapi disini Ki Ageng langsung bertindak, lima detik sebelum kau cipika-cipiki dengannya, kau menyadari lupa bercukur dan bulu hidungmu menjuntai keluar.

Dalil Ki Ageng Murphy adalah produk dunia modern, lengkap dengan segala kerumitannya. Andai kau ingin menemukan suatu masa yang tidak terpengaruh oleh dalil Murphy, kau perlu mundur ke babak akhir zaman batu, sekitar 5000 tahun sebelum masehi.

Untuk mendapatkan gambaran tentang kehidupan di zaman itu, coba lihat ke luar jendela kemudian bayangkan semua rumah, taman, mobil, dan jalanan menghilang dari hadapan. Lanjutkan operasi sapu bersih sampai kau dapat membayangkan tinggal di lereng bukit yang sunyi. Selanjutnya buang pula hampir semua orang yang biasa kau lihat. Tambahkan beberapa kambing. Sekarang kau sudah kembali ke zaman Palaeolitik. Harta nenek moyang kita kala itu hanya pohon, sedikit batu dan sedikit kambing. Tidak banyak yang dapat kau buat dari bahan baku semacam itu, dan tidak bisa pula keliru. Itu sebabnya nenek moyang kita jarang bertemu dengan Ki Ageng Murphy. Selain itu, dunia selalu sama bagi orangtua mereka, pun bagi nenek moyang jauh mereka. Mereka telah berevolusi selama berjuta tahun untuk merasakan kebahagian dalam dunia yang serba sederhana, tanpa perubahan, dan menyenangkan karena hampir tanpa rahasia.

Visual sederhananya, bagi yang suka game dari microsoft “Age Of Empires (AOE), silahkan mulai dari zaman “dark age” atau era yang primitif sekali. Seperti itulah kesederhanaanya.

Bandingkan dengan hiruk pikuk masa sekarang. Dalam hanya beberapa ratus tahun, manusia modern telah menutup lubang bukti-bukti prasejarah yang dahulu sederhana itu, untuk mengambil 92 (dari 114) jenis unsur yang terdapat di alam ini, yang dapat disusun untuk membentuk 9.292 macam melekul eksotik, yang dapat digunakan untuk membuat 9.292 x 9.292 macam perkakas dan perabotan ajaib, yang dapat menyebabkan 9.292 x 2.292 x 9.292 masalah yang sangat pelik. Untuk membangun semua perkakas dan perabotan  itu, manusia modern harus membangun perumahan, pergudangan, perkantoran dan pusat-pusat hiburan di atas lahan yang dahulu digunakan sebagai padang perburuan oleh nenek moyang Palaeolitik kita.

Pada abad 2000 SM, sebuah keluarga yang rata-rata beranggota sepuluh jiwa dapat tinggal dengan nyaman bersama semua perkakas dan mainan mereka—di dalam sebuah ruangan yang tidak lebih besar dari dapur modern. Kini orang kaya mana pun sering membeli rumah kedua hanya untuk menyimpan begitu banyak pernak-pernik yang menurut mereka tidak mungkin dijual atau dibuang. Kelihatannya, gaya hidup bersahaja 4000 tahun yang silam telah habis tertimpa oleh tatangan hidup sosial yang sangat beragam dan rumit di kota-kota besar saat ini. Tatanan sosial yang ada pada zaman ini, merupakan perkembangan jumlah penduduk yang dahsyat sekali. Manusia yang ada di zaman batu dapat dikumpulkan semuanya dalam sebuah kota dunia modern yang berukuran sedang.

Kita telah melewati rentang waktu yang panjang sekali sejak zaman batu, tetapi otak kita tidak berubah banyak. Pikiran kita masih bergelung dalam mimpi zaman Palaeolitik. Ketika otak zaman Palaeolitik bertemu dengan dunia modern, datanglah Ki Ageng Murphy.

Bagaimana reaksi otak zaman batu kita terhadap zaman plastik? Kebanyakan masih tepukau dan serba bingung. Seperti sinetron atau FTV cinta-cintaan, yang tingkat romantis buatannya sering membuat kita meleleh tak jelas hingga harus cari pegangan, baik pada sandaran kursi atau terali jendela. Ia bisa berakibat buruk bagi perkembangan kita. Karena tiap langkah maju peradaban, selalu menyediakan sebuah kulit pisang lagi yang siap membuat kita terjelepak. Akan tetapi sungguh sangat melegakan jika kita bisa memperoleh penjelasan yang masuk akal atas semua fenomena ini.

Sesungguhnya kejadian seperti itu bisa merangsang kita untuk tahu lebih banyak tentang alam ini seperti: mengapa laut yang dipenuhi ganggang tampak seperti itu, mengapa orang kota cenderung pindah ke daerah pinggiran, dan mengapa universitas menambah dan terus menambah mahasiswanya meski melebihi kemampuan. Musti ada penjelasan yang masuk akal tentang sejumlah fenomena yang membingungkan, tetapi dianggap lazim ini.

Jawabannya terdapat pada diri kita sendiri, sebab Ki Ageng Murphy sering bersembunyi di balik mata orang yang melihatnya. Pikiran kita memandang dunia sebagai sesuatu yang berkomplot melawan kita, padahal dalam hal ini dunia sama sekali tidak bersalah.

Seperti ketika sedang menunggu sebuah elevator, di kamar mandipun tidak ada yang bisa dilakukan selain menatap dan mengutuk pintunya, mengutuk orang di balik pintu, dan mengutuk Ki Ageng Murphy yang membiarkan kamar mandi kosong selama 15 menit sampai tiba-tiba kau membutuhkanya. Karena terdorong oleh kebutuhan mendesak, waktu terasa berjalan lebih cepat dari yang biasanya. Itulah yang membuat kita frustasi. Air dalam panci yang terus menerus diperhatikan tak kunjung mendidih. Atau Indomie yang terus menerus diperhatikan tak kunjung matang. Waktu jelas tak tergesa-gesa ketika kau tengah menunggu panci untuk mendidihkan air.

Fenomena berikut adalah contoh lagi tentang kenakalan Ki Ageng Murphy.

Tepat sebelum alarm berbunyi di pagi hari, mata akan membelalak terbuka. Kau berpikir itu hebat, kau telah benar-benar terjaga dan siap melompat dari ranjang, dan mempunyai waktu dua menit sebelum mendengar bunyi alarm. Lalu kau mematikan alarm dan berbaring kembali sejenak. Yang kau dengar kemudian adalah teriakan telpon. Oh, ternyata jarum jam telah menunjuk pukul enam pagi dan kau ketinggalan pesawat.

Atau, hebohnya rumah ketika kau tidak ingin membuat gaduh. Tidak usah membicarakan alasan berjingkat-jingkat di dalam rumah ketika mengira semua orang sedang tidur. Cukup akui saja bahwa kau pernah melakukanya, dan kau akan tercengang mendapati betapa cerewetnya magiccom, sendok, garpu, piring, dan keclekan kompor gas dihidupkan di malam buta ketika empunya rumah baru saja tertidur. Lapar di tengah malam kadang jadi satu kerumitan yang bajingan. (Dulu, dengan beberapa kawan awak cukup gemar melakukan ini J)

Terakhir,

Kids in cars cause accidents
Accidents in cars cause kids.

Mengingat Ki Ageng Murphy sialan ini bisa membidik kita dari sudut manapun, dan ia bisa datang kapan saja, awak sarankan jagalah dirimu dengan laku baik. Awak juga akan bertindak demikian.

Bandar lampung—Depok 2013
*Dari banyak sekali sumber




No comments: