Geografi dan Perkakas Pria


Awak meyakini pemirsa di forum ini sudah dewasa (D) dan sudah tidak perlu bimbingan orang tua (BO), seperti saran dari komisi penyiaran, KPI. “Konten dibawah ini, beberapa informasinya untuk 18 tahun ke atas” J

Awak pernah begitu lama memendam pertanyaanberdasarkan pengalaman awak ketika itu dan sesudahnya. “dan sesudahnya” di sini bahkan bisa bertahun-tahun berlakunya—. Pertanyaannya begini. “Apa ya hal yang dianggap tabu, saru, yang patut diperbincangkan dan dikupas setajam... Pisau cukur? Dengan geografi?”. Jawabanya baru datang beberapa waktu yang lalu dan baru sekarang bisa awak tuliskan di forum ini. Pertanyaannya konyol, ganjil, dan sekaligus akrab. Ini penilaian subjektif awak saja yang tentu tidak perlu persetujuan orang lain.

Pada akhirnya Awak menemukan dan memutuskan akan menggunakan Geografi Kesehatan (GK) untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kenapa akhirnya awak memilih GK, ada ceritanya.

Begini, beberapa kejadian pernah menjadi sebab awak bersirobok kembali dengan pertanyaan konyol tersebut. Pertanyannya seperti menggerogoti pikiran awak dari waktu ke waktu tanpa awak bisa mengelak. Sejenis pertanyaan, Kaantuik (kentut)..! Awak tidak suka, awak rasa, masih banyak hal lain yang harus awak pikirkan dan lebih bernilai.

Kejadian-kejadian ini terjadi tahun 2012 lalu. Diantaranya; Pernah satu kali ketika akan berangkat ke Yogyakarta di bandara Soekarno-Hatta awak berkenalan dengan Prof. Hartono dari Geografi UGM. Selain mengajar di Geografi ia juga mengajar di Fak. Kedokteran UGM. Tentu yang ia ajar GK. Ternyata ia juga baru saja pulang dari Sumatera (Jambi? maaf awak lupa tepatnya), untuk memberikan kuliah mengenai GK di salah satu universitas. Obrolan menarik soal GK ini sempat diteruskan di ruang tunggu bandara. Awak harus berterima kasih pada Bu Endah karena telah mengenalkan awak dengan Professor yang ramah dan murah berbagi ilmu ini.. J

Kali lain, pembimbing tesis awak seorang pengajar di departemen Biostatistik Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM). Bapak ini S1 nya Geografi. Di sela-sela bimbingan tesis, jadilah awak juga sempat ngobrol menyoal Ilmu Kesehatan dalam perspektif Geografi.

Banyak hal dari dua pengalaman diatas yang bisa awak ceritakan sebenarnya. Kalau boleh, kali lain awak tuliskan.

Awak mulai benar-benar menyadari kembali “desakan” pertanyaan itu untuk segera dicari pelepasannya, ketika Awak kuliah di Salemba, Jakarta. Jadi Tahun 2012 itu, awak mendapat mata kuliah yang mengharuskan kesana. Pengajarnya pria nyentrik nan ajaib, seorang Doktor pemodelan lingkungan ternama, sekaligus dokter spesialis Ginekologi Onkologi. Ya, kita tahu, spesialisasinya berkaitan dengan operasi dan pengawasan semua aspek pengobatan kanker, pada organ reproduksi wanita. Perpaduan pemodelan lingkungan dan ginekologi onkologi cukup ajaib bukan?

Ketika kuliah di Salemba itu juga awak pernah begitu irinya dengan anak kedokteran. Iri benar. Sore itu awak baru pulang dari kuliah di Salemba. Ketika hendak pulang menuju Depok, di halte Busway depan kampus, awak ikut antri bersama mahasiswi yang awak yakini anak kedokteran. Tiga orang mahasiswi. Ah ya, awak ingin sedikit mendeskripsikan rupa penampilan mereka. Mereka semua berwajah oriental, kulit putih seperti porselin, memakai kemeja lengan panjang putih polos, baju dimasukkan ke dalam rok span hitam segaris di atas lutut. Kalung dan gelang blink-blink minimalis yang sedang tren untuk aksesoris, tapi minus anting di telinga. Wangi tidak? Hm, jangan ditanya. Wangi sekali. Berbetis indah seperti betis model iklan, dan minim bulu kaki. Awak jadi tidak yakin sama penilaian awak sebelumnya. Mereka ini calon dokter atau anggota girls band?

Oke. Awak bukan iri sama penampilan aduhai mereka itu, karena terakhir kali awak cek, awak masih laki-laki. Awak iri sama obrolan ringan tapi serius yang mereka gelar. Mereka diskusi persoalan mitos-mitos seputar seks. Awak tidak bisa menangkap semua pembicaraan mereka, tapi secara umum mereka membahas fakta bahwa mitos itu ada yang benar dan banyak juga yang keliru. Beberapanya, mereka membahas keberadaan G-Spot pada wanita itu posisinya dimana? Apakah letaknya berbeda setiap wanita, atau jangan-jangan itu G-Spot tidak ada? Terus, kalau laki-laki G-Spotnya dimana atau jangan-jangan tubuhnya G-Spot semua? Ada lagi, mitos terbantahkan soal wanita harus tidur miring ke kanan setelah berhubungan kalau menginginkan anak lelaki. Itu keliru, mereka serempak mengangguk. Awak curiga mereka baru saja mengikuti kuliah umum dr. Boyke.

Setelah mencuri dengar obrolan, awak seperti dikeluarkan dari lorong gelap. Selama ini, awak semacam naik kereta api yang melewati terowongan gelap yang panjang, tanpa tahu dimana ujungnya. Akhirnya awak melihat secercah cahaya putih menenangkan. Yup, Awak akan segera sampai di ujung terowongan mencekam dan melelahkan pikiran ini. Awak tercerahkan! Satu jawaban akhirnya ketemu..Yiiha. Tidak seperti ini juga sebenarnya. Metafora awak saja yang lebay.

Awak jadi lebih yakin lagi, hal tabu yang patut diperbincangan dan diterawang menggunakan kaca mata geografi adalah persoalan kesehatan, persoalan seks. Tiba-tiba awak merasa di lemparkan lagi ke situasi aneh. Ada situasi ruwet yang susah awak pahami, tapi menantang. Ada pertanyaan lain berontak untuk segera dijawab. Awakpun coba menjawabnya, “Baiklah kita membahas persoalan geografi kesehatan seks. Tapi apa? Bagaimana? Kamu dimana? Dengan siapa? Sekarang berbuat apa?..  Eh, stop! ko’ jadi Andhika begini” -__-.

Penis size aroud the world

Sejauh ini awak agak kuper mengenai buku-buku dan informasi yang membahas soal Medical Geography (Geografi Kesehatan) dan bagaimana mendatangkan pemahaman dengan cara memvisualisasikan (memetakan) apa yang diinginkan dibidang ini. Karena, GK datang melalui fase-fase yang ganjil bagi mahasiswa yang kurang bacaan seperti awak. Itu kesalahan awak sendiri. Terlebih, pada masa ini—1-2 tahun lalu—awak mendekati ilmu geografi dengan perasaan terpesona kepada siapa saja yang membahas soal geografi kontemporer (Radical geography?). Awak sendiri hanya berani melihat mereka dari jarak paling jauh di pojokan, sebagai anonim dari tanah Sumatera. Awak lebih banyak melongo.

Beberapa waktu lalu, tetap dengan pengetahuan minim tentang GK, awak menuliskan frase “Research of penis sizes around the world” di mesin pencari internet. Pikir awak, jangan-jangan ada orang barat yang sudah menulis penelitian tentang persebaran perkakas pria ini. Awak punya kecurigaan bahwa mereka gemar memikirkan apa saja, membahas apa saja, dan kemudian menuliskan apa saja ke dalam bentuk jurnal atau buku. Dan, ternyata memang ada penelitian tentang persebaran ukuran benda pusaka pria ini. Sebuah penelitian yang dikeluarkan Ulster University mengenai “Taksiran ukuran penis di seluruh dunia”.

Tema penelitian ini membuat awak melongo. Jadi ketika awak baru memikirkan adanya kemungkinan penelitian ini dilakukan, dan sekaligus besarnya keraguan untuk mencarinya di internet, ternyata di Inggris sana orang sudah memikirkan pengetahuan tentang bagaimana sebaran penis dan menuliskanya sebagai sebuah sains alih-alih sebagai olok-olok.

Awak segera terpukau. Jika demikian halnya, penelitian ini sangat penting bagi teman-teman —termasuk awak—yang tertarik pada geografi kesehatan. Seperti kasus sebagian dari teman lelaki, menjadi orang yang tidak percaya diri kalau berdiri berdampingan dengan pria Arab, Beberapa bahkan sakit hati plus iri melihat mereka, atau teman wanita yang sedikit jeri kalau memikirkan seandainya menikah dengan orang Arab. Tentu saja penelitian ini wajib diketahui oleh semua orang. Kita tahu, sudah lama beredar gosip dahsyatnya ukuran perkakas pria-pria Arab. Dalam penelitian ini gosipnya ternyata tidak terbukti. 

Dalam menyampaikan penelitian mengenai benda pusaka pria ini, professor dari Universitas Ulster enteng sekali menyodorkan pendapat-pendapatnya. Adalah Richard Lynn, professor emeritus psikologi dari Universitas Ulster Inggris, sekaligus dosen di psikologi di University of Exeter. Ia menemukan, laki-laki dari negara Kongo paling beruntung, ketika ereksi perkakas mereka rata-rata bisa mencapai panjang 17, 93 cm, disusul Ekuador dengan 17,77 cm, Ghana 17,31 cm, Kolombia dan Venezuela 17,03 cm. Paling tidak di jajaran top five, tidak ada menyebut-nyebut Arab bukan?

Ada juga komentar yang meragukan riset ini. Misalnya, metode pengambilan data, alih-alih keliling dunia membawa penggaris, Prof. Lynn ini hanya mengumpulkan datanya lewat internet.

Begitulah, secara tersirat penelitian ini menjelaskan faktor ras dan genetik berpengaruh dominan. Namun tidak bisa diabaikan juga kemungkinan hal lain ikut berpengaruh, terutama faktor geografis. Dan, bisa didiskusikan lebih dalam.

Melihat sebarannya, “extra size” lebih banyak ada di negara-negara dekat dengan garis ekuator. Bolehlah kita mempersangkakan semisal; apakah perbedaan karakteristik dan letak wilayah bisa mempengaruhi ukuran. Atau, Apakah hutan hujan tropis ada memberikan makanan atau zat tertentu, yang membuat benda-benda tumbuh maksimal. Atau lagi, karena kelebihan cahaya matahari, benda-benda di negara tropis lebih mudah memuai...

BERSAMBUNG....

PS:

  1. Untuk melihat sumber bacaan yang awak pakai, silakan ketikan frase yang sama di mesin pencari internet,  seperti yang telah awak tuliskan diatas, kalau beruntung akan ditemukan cukup banyak tulisan yang membahas penelitian ini.
  2.  Peta persebaran perkakas pria di dunia: http://www.targetmap.com/viewer.aspx?reportId=3073
  3. Tulisan ini banyak disusupi frase dan gaya penulisan dari Mas @aslaksana


No comments: