Huawei Nova 3i Dan Ceritanya

Dear Huawei Nova 3i,

Mulai dua hari lalu aku mulai mem-Follow akun sosial media yang mereview perangkat-perangkat elektronik—Ini kebiasaan baru untukku, entah kenapa. Satu hari lalu ketemu dan langsung follow Twitter @OomYahya, dan kemudian menyadari belio sedang mengadakan sesuatu mengenaimu. Dan hari itu juga aku memaksa diriku sendiri untuk mengikuti acara si Oom. Ternyata sudah terlambat. Tenggat waktunya tinggal beberapa jam lagi. Sekarang aku tetap akan mengirimkan tulisan ini. Ku akui, aku kadung terobsesi denganmu. Ingin menceritakan apa saja tentangmu yang aku ketahui baru-baru ini. Daripada dipendam dan jadi penyakit? Mendingan aku sampaikan saja.

Acara yang diadakan Si Oom ini, sebenarnya, aku membencinya. Apa alasan aku sampai membencinya? Ada dua alasan utama, Pertama, karena kudet, aku baru menemukan acara yang dibikin si Oom ini praktis setelah aku memfollow akun Twitter-nya, sekitaran tiga hari yang lalu. Kedua, karena alasan pertama, aku jadi kelimpungan mencari-cari tahu tentangmu. Kau tahu, Kelimpungannya bukan karena susah mencari informasi tentangmu, tapi kelimpungan karena ternyata begitu banyaknya informasi tentangmu yang beredar di luar sana. Kemana saja aku selama ini? Sampai tak tahu bahwa kau ada?
Kemana kau selama ini…
Bidadari yang kunanti…
Kenapa baru sekarang, kita dipertemukan….

Bagaimana Cara Membaca Karya Ilmiah

Credit: N. Hendrickson-iStockphoto
Tidak ada yang akan bisa membuat kau tampak sedikit konyol seperti ketika membaca artikel jurnal ilmiah.
Aku masih ingat pengalaman petamaku dengan sebuah naskah yang begitu padat, begitu hambar, ketat, yang beberapa ilmuwan tampak mengunyah naskah tersebut seperti kegiatan enteng dan rutinitas belaka.
Saat itu aku masih di perguruan tinggi dan mengikuti sebuah pelatihan dimana kita harus membaca dan mendiskusikan tulisan baru setiap minggu. Dan beberapanya tidak berjalan lancar untukku.
Begini jalannya pelatihan untukku: Setiap minggu, di kelas, aku akan duduk bersama sebuah artikel; membaca setiap penggal kalimat, dan kemudian menemukan fakta bahwa ternyata aku belum memahami satu hal pun. Aku mengikuti kelas dengan satu pengetahuan yang sangat jelas: aku tahu sekali bahwa aku telah membaca artikelnya, itu saja. Kemudian, Sang Instruktur mengajukan satu pertanyaan; aku tak paham sama sekali apa yang ibu instruktur tanyakan. Kemudian ia tanyakan kembali sebuah pertanyaan gampang—masih tak ada ide jawaban. Tapi aku telah membaca artikel kampret ini!
Ki Ageng Murphy Dan Kenakalannya

***
Lagi, kecurigaan awak selama ini terbukti. Bahwa Orang Barat gemar memikirkan apa saja, membahas apa saja dan kemudian menuliskannya menjadi sebuah penelitian, bahkan bisa menjadi dalil yang universal. Kali ini sebut saja namanya Ki Ageng Murphy.

***
Tulisan ini tentang beberapa kejadian sehari-hari di sekitar, dan kaitannya dengan belitan Dalil Murphy. Kalau kau pernah mendengar dalil ini, mungkin kau sudah bisa menebak ke arah mana tulisan ini bergerak. Bagi yang baru pertama kali mendengar, sabarlah sebentar. Atau, kau bisa menghentikan bacaan sementara di sini dan melongok Wikipedia.
Sumber: https://www.etsy.com