Untuk W, Pada Senja Bernama Rindu

Gambar dari sini
W, peringatan untukmu. Tulisan berikut ini ada sumpah dan serapahnya, mengandung cukup banyak energi negatif. Bacalah kalau suasana hatimu sedang buruk. Kalau sedang baik, tak usah saja. Aku memang bermaksud membuang energi negatif dan, memindahkanya padamu. Toh, sekali waktu kau perlu juga merasakan energi negatifku, kan? Tak hanya yang positif. Anggap saja aku sedang berbaik hati, sedang senang berbagi.
***

Aku pernah begitu membenci senja, aku dihajar sampai sempoyongan. Itu senja ketika kau meninggalkan aku dipantai itu. Tak ada lagi senja kuning keemasan dan semanis madu, yang ada hanya seonggok senja yang menggantung di kaki langit. Seonggok senja dengan orang-orang seperti lalat pemuja di pinggiran pantai. Kenapa kumpulan lalat itu begitu memuja senja? Padahal, lihatlah namanya saja senja, apa indahnya? Mirip sekali dengan ti*ja, bukan? Aku curiga mereka berasal dari akar kata yang sama. Mungkin dari bahasa sanskerta?
Baiklah, aku tahu, benar-benar tahu. Kau pergi pada senja terkutuk. Karena aku berbuat keliru, berbuat salah padamu. Kau tahu, setelah senja—di nomor urut dua—aku mengutuk diriku. Apa yang aku perbuat, seonggok guratan senja pun tak akan cukup menebus kesalahanku. Sebegitu tak berharganyalah aku.
Oh, ada satu hal yang aku suka dari perjalanan menuju senja. Sebab setelah senja gelap segera merenggutnya, kau tahu apa yang dijanjikan gelap? Ialah kegelapan yang menenangkan dan menyamankan.
Seperti yang aku bilang tadi, kenapa ya namanya senja? Gak ada nama lain yang lebih rancak gitu? Tak ada aduhai-aduhainya. Siapa ya yang dulu memberi nama senja? Kupikir ia perlu diberi bacaan semacam “Buku pintar kumpulan bagaimana memberi nama-nama benda agar aduhai dan penuh makna”, terserah karangan siapa saja.
W, beda dengan nama mu. Menurutku namamu ada makna disana. Meski kau pernah bicara, kau sebetulnya tak terlalu suka namamu, pas aku tanya kenapa, kau menjawabnya entah. Kau tahu, aku suka namamu. Lihatlah, satu karakter awalan namamu saja, sudah berapa banyak aku bikin aliran kata? Semuanya tentangmu, termasuk namamu. Dengan namamu saja aku sanggup menggores ribuan kata. Kau harus bangga pada dirimu, termasuk namamu. Seperti aku bangga memilikimu, termasuk namamu.
Lihatlah tulisanku setelah ini, ada namamu disana, coba cari untaian dan rangkaian namamu, aku menaruhnya disana sebagai sumber cerita utama, seperti biasanya.
***
Rindu, rindu yang memaksaku melaju, melepaskan yang dibelakang dan, bersiap pada yang menghadang.

Waktu menunjukkan pukul 13.58 menuju rindu
Indra pembauku, “Ia disini, ada baunya” kata perindu
Dimana rindu mau mengadu?
Ingatan asam yang disiram dengan luka barangkali?
Atau ada cinta yang dibakar luka?

Gunanya luka untuk rindu
Ujian yang ditempuhnya sudah coba di uji di depan senja
Sabtu, aku pulang kerumah lukaku
Tak apa, jika, aku harus mundur, jadwal merindu diadu luka
Inspirasi yang aku butuhkan, bagaimana cara membaca luka?
Naiklah ke punggung rindu, kau akan dibawanya lari menuju luka
Andaikan saja aku pintar mengejar senja, aku ambil sang rindu

Carilah rindu yang bangun setiap senja
Indahnya senja, sebentar akan rindu rasa
Tetaplah seperti luka
Aku segera rindu untuk luka

***

No comments: