![]() |
| Gambar dari sini |
W, kau mengenalku
hanya saat mulai tumbuh dewasa di sekolah menengah. Kau belum mengenalku bagaimana
ketika aku masih kecil. Jadi dengan bermaksud ingin mengenalkan siapa diriku
sesungguhnya, aku akan ceritakan sedikit tentang masa kecilku. Disini, aku
ingin cerita sesuai dengan sudut pandang yang aku pahami sekarang. Maafkan
jika tulisanku kali ini sedikit serius, kuharap kau tak keberatan dan tak bosan
membacanya.
W, aku pernah
membaca kata-kata bagus seperti ini, “Ketika
seorang manusia dapat menerima dirinya apa adanya, itulah titik tertinggi
kebahagiaan yang dapat ia capai”.
Kau tahu, W. Ketika
aku masih kecil, saat masih di SMP, aku bingung terhadap diriku sendiri. Terkadang
aku merasa begitu hidup dan banyak bicara ketika diskusi di kelas, melontarkan
komentar-komentar bagus dan tak bisa disanggah. Rasa-rasanya saat itu jika aku
mengetahui suatu pokok pembicaraan maka aku akan sanggup untuk terus bicara
tanpa henti. Di saat lain, ketika ingin bicara namun tak bisa, karena
pikiranku benar-benar kosong, meski beberapa saat sebelumnya aku telah
memikirkan sesuatu untuk disampaikan dan mengangkat tangan,
tetapi ketika guru memanggil namaku dan mengijinkan bicara tiba-tiba layar
yang ada didalam kepalaku memudar dan menjadi hitam, kemudian menghilang apa-apa saja yang ingin kusampaikan. Ketika itu terjadi ingin rasanya untuk
sembunyi saja di bawah meja. Hal itu sering membuatku pusing dan sedikit
frustasi, W.
Sumber frustasi
ku yang lain adalah daya tahan energiku yang sangat rendah. Aku gampang sekali
merasa lelah. Aku tak punya stamina sebaik teman-teman dan keluargaku yang
lain, bahkan ketika aku merasa lelah dan kewalahan karena terkurasnya energi, aku
akan berjalan, makan, bicara dan tindakan-tindakan lainnya dengan pelan, tak jelas dan
terbata-bata. Ketahuilah, W. Kupikir aku tak pernah dan bahkan tak akan pernah
mempunyai energi yang tangguh dan sebanyak orang-orang lain.
Aku butuh
waktu bertahun-tahun untuk menyadari kontradiksi dan ‘keganjilan’ itu merupakan
satu hal yang sebenarnya masuk akal. Aku adalah seorang introver yang
normal-normal saja. Dan ketika aku mengetahui hal tersebut, aku merasa sangat
lega!
![]() |
| Gambar dari sini |
Dulu pernah
ada suatu masa aku merasa ada yang salah dengan diriku, misalnya aku merasa
pusing dan sempit ketika berada di pusat keramaian, aku merasa sesak napas
ketika diluar ruangan, seperti di pusat keramaian itu. Hal ini sudah kau
ketahui bukan? Hal itu masih terjadi sampai sekarang, W. Selain itu aku juga
lebih suka diam dan berpikir ketimbang bicara.
Seperti yang
aku bilang sebelumnya, aku kemudian menyadari diriku sebenarnya adalah orang
yang introver, aku bukanlah orang aneh. Kesalahanku adalah aku melihat
diriku dari kacamata ekstrover. Begini,
antara introver dan ekstrover tak ada yang salah sebenarnya, yang ada
hanyalah antara introver dan ekstrover masing-masingnya adalah kutub dari sebuah
rangkaian energi, berada pada kutub manapun, introver maupun ekstrover adalah sesuatu yang baik—hanya saja, berbeda.
W, menurut
penelitian 75 % dunia ini berisi orang-orang ekstrover. Bayangkan, di dunia ini
orang introver menjadi kaum minoritas. Didunia yang didesain dan mindset pandangan umum yang ada melihat
bahwa menjadi introver adalah sebuah kekurangan. Tapi tak apa, mengetahui
kenyataan ini saja sudah cukup buatku, untuk merasa lega. Aku menjadi seseorang
yang lebih mengetahui siapa diriku sebenarnya, dan bisa merencanakan kehidupanku
selanjutnya.
Ah, W. Sebenarnya
banyak yang ingin kuceritakan padamu tentang siapa diriku sebenarnya. Terlebih soal
introver dan ekstrover ini. Hanya saja kesempatan itu belum ada tampaknya. Disini,
di kota ini aku sedang membayangkan pada suatu minggu pagi mungkin kita bisa
membicarakan lebih jauh tentang diriku, ditemani dua cangkir teh buatanmu dan
beberapa biskuit coklat. Kupikir itu akan mampu membuat duniaku terasa lebih lega
dan bahkan mungkin lebih indah.
Aku cukupkan
dulu suratku disini, tulisan singkat ini terlalu serius dan melelahkan, aku merasa
lelah menulisnya. Kali lain aku akan teruskan menulisnya lagi, khusus
untukmu.
***


2 comments:
tulisan ini bagus
- ika, tukangpos
Makasih, kak... :)
Post a Comment