Untuk W, Dan Gerutuan

Gambar dari sini
W, aku ingatkan, suratku kali ini berisi pesan negatif dan kemungkinan bisa merusak moodmu jika membacanya. Jadi, jika kau saat ini tak dalam kondisi baik, tak usah dulu membaca suratku. Kemungkinan bisa memperburuk kondisimu. Jika nanti kau telah dalam keadaan lebih baik, mungkin kau bisa membaca suratku ini. Ini semacam gerutuan ku saja.

Kau tahu, Kota ku sekarang bukanlah kota yang baik. Saat ini hanya ia kota yang menendang dan menyerang ku dengan situasi-situasi yang menyesakkan dada. Tak ada perilaku baik sebelum yang tak dicurigai. Sederhananya, kota ini selalu menebarkan kecurigaan yang berlebihan. Ini perusak mental pertama.
Kota ini bukanlah kota untuk mencari kehidupan, kota ini kota untuk mencari uang. Itu saja. Ku katakan padamu, kota ini hanya kota untuk mencari materi dan bukanlah kota untuk mencari kehidupan yang layak seperti yang pernah kita angankan dahulu. Kota ini selalu berhasil membunuh cita-cita, bahkan cita-cita terkecil sekalipun. Ini perusak mental kedua.
Ini perusak mood selanjutnya. Kau masih ingat waktu kita berjalan berdua di trotoar dan bergandengan tangan malu-malu di sore itu di kotamu? Jangan harap ini terjadi di kota ini. Kalau kau tak hati-hati kau bisa diseruduk pengendara motor yang merebut area yang diperuntukkan buat pejalan kaki. Mereka sudah jelas salah, eh malah kalau kau menghalangi jalan mereka di trotoar itu, kau akan diklakson habis-habisan. Kau tahu, klakson menjadi senjata utama buat pengendara motor yang entah menaruh otaknya dimana. Tak di kepala tak pula di dengkul, kupikir dengkul masih terlalu mulia untuk dijadikan tempat meletakkan otak mereka. Entahlah, W. Otak mereka ada dimana
Meski untuk golongan muda dilarang keras untuk mencari kenyamanan terlalu cepat, dan kalau bisa bertarung lebih lama dengan masalah dan kesusahan hidup, agar bisa membikin orang-orang muda menjadi lebih tangguh, dimasa dewasa dan dimasa depanya, maka di kota ini susah sekali untuk mempertahankan prinsip-prinsip dari motivator-motivator di televisi itu. Kota ini sudah terlalu di luar batas kenormalan untuk menjadi medan perang ketangguhan.
Itu baru satu sisi, W. aku hanya memandang perilaku pengguna jalan, khususnya pengendara motor. Aku mengalaminya hari ini. Memang seharusnya kita tak bisa menyalahkan preilaku ini. Ada begitu banyak keruwetan di kota ini yang sialnya saling berkaitan. Keruwetan yang satu terkait dengan keruwetan yang lain, keruwetan yang lain berkaitan dengan keruwetan berikutnya, keruwetan berikutnya berkaitan dengan keruwetan yang satu. Hingga menjadi satu lingkaran setan keruwetan yang setiap hari semakin menjadi-jadi.
Kota ini punya harapan sekarang. Kota ini sekarang dipimpin oleh dua orang yang kelihatanya benar-benar bekerja untuk kebaikan kota ini. Semoga saja kota ini menjadi lebih baik dibanding dengan dahulu, setelah dipimpin dua orang nyentrik. Semoga, W.
Tapi, kau tahu. Aku sudah benar-benar mual sekarang. Seolah jika aku melihat kearah manapun aku hanya melihat keruwetan yang membikin sakit kepala dan menaikkan asam lambung. Benar-benar mual.
Aku ingin pulang, W. Pulang ke kotamu. Tak peduli jika motivator-motivator itu menertawakan aku menjadi golongan yang kalah. Aku sudah tak peduli. Aku hanya ingin pulang. Pulang menuju dirimu. Aku lelah, W. aku ingin menyingkir dan mencari sandaran sebentar. Sejenis tempat sandaran dan berkeluh kesah seperti kamu.
Aku ingin pulang, itu saja..
***

No comments: