![]() |
| Gambar dari sini |
Kau tahu,
Kota ku sekarang bukanlah kota yang baik. Saat ini hanya ia kota yang menendang
dan menyerang ku dengan situasi-situasi yang menyesakkan dada. Tak ada perilaku
baik sebelum yang tak dicurigai. Sederhananya, kota ini selalu menebarkan
kecurigaan yang berlebihan. Ini perusak mental pertama.
Kota ini
bukanlah kota untuk mencari kehidupan, kota ini kota untuk mencari uang. Itu saja.
Ku katakan padamu, kota ini hanya kota untuk mencari materi dan bukanlah kota
untuk mencari kehidupan yang layak seperti yang pernah kita angankan dahulu. Kota
ini selalu berhasil membunuh cita-cita, bahkan cita-cita terkecil sekalipun. Ini perusak mental kedua.
Ini perusak
mood selanjutnya. Kau masih ingat waktu kita berjalan berdua di trotoar dan
bergandengan tangan malu-malu di sore itu di kotamu? Jangan harap ini terjadi di kota
ini. Kalau kau tak hati-hati kau bisa diseruduk pengendara motor yang merebut
area yang diperuntukkan buat pejalan kaki. Mereka sudah jelas salah, eh malah
kalau kau menghalangi jalan mereka di trotoar itu, kau akan diklakson
habis-habisan. Kau tahu, klakson menjadi senjata utama buat pengendara motor
yang entah menaruh otaknya dimana. Tak di kepala tak pula di dengkul, kupikir
dengkul masih terlalu mulia untuk dijadikan tempat meletakkan otak mereka. Entahlah, W. Otak mereka ada dimana
Meski untuk
golongan muda dilarang keras untuk mencari kenyamanan terlalu cepat, dan kalau
bisa bertarung lebih lama dengan masalah dan kesusahan hidup, agar bisa membikin
orang-orang muda menjadi lebih tangguh, dimasa dewasa dan
dimasa depanya, maka di kota ini susah sekali untuk mempertahankan
prinsip-prinsip dari motivator-motivator di televisi itu. Kota ini sudah
terlalu di luar batas kenormalan untuk menjadi medan perang ketangguhan.
Itu baru satu
sisi, W. aku hanya memandang perilaku pengguna jalan, khususnya pengendara
motor. Aku mengalaminya hari ini. Memang seharusnya kita tak bisa menyalahkan
preilaku ini. Ada begitu banyak keruwetan di kota ini yang sialnya saling
berkaitan. Keruwetan yang satu terkait dengan keruwetan yang lain,
keruwetan yang lain berkaitan dengan keruwetan berikutnya, keruwetan berikutnya
berkaitan dengan keruwetan yang satu. Hingga menjadi satu lingkaran setan
keruwetan yang setiap hari semakin menjadi-jadi.
Kota ini
punya harapan sekarang. Kota ini sekarang dipimpin oleh dua orang yang
kelihatanya benar-benar bekerja untuk kebaikan kota ini. Semoga saja kota ini
menjadi lebih baik dibanding dengan dahulu, setelah dipimpin dua orang nyentrik. Semoga, W.
Tapi, kau
tahu. Aku sudah benar-benar mual sekarang. Seolah jika aku melihat kearah manapun
aku hanya melihat keruwetan yang membikin sakit kepala dan menaikkan asam
lambung. Benar-benar mual.
Aku ingin
pulang, W. Pulang ke kotamu. Tak peduli jika motivator-motivator itu menertawakan
aku menjadi golongan yang kalah. Aku sudah tak peduli. Aku hanya ingin pulang. Pulang
menuju dirimu. Aku lelah, W. aku ingin menyingkir dan mencari sandaran
sebentar. Sejenis tempat sandaran dan berkeluh kesah seperti kamu.
Aku ingin pulang, itu saja..
***

No comments:
Post a Comment