![]() |
| Gambar dari sini |
Akhirnya bisa
kusampaikan surat ini, surat yang tertunda cukup lama, hingga sekarang
kesempatannya tiba. Setiap pekerjaan khusus selalu menuntut kesabaran yang
khusus dan perhatian yang khusus pula, seperti suratku kali ini. Hari ini dalam
proyek menulis yang sama-sama kita ikuti, kita ditentukan untuk membikin surat
yang kita tujukan kepada sesama penulis. Tanpa pikir panjang, aku langsung
menetapkan pilihan untuk menuliskan surat untukmu saja.
Menurutku cinta
wajar-wajar saja kalau tak berbalas, namun surat akan tampak aneh kalau tak
berbalas. Dilandasi argumen sepele tersebut, aku memutuskan akan membalas surat
yang kau kirim untukku dua belas hari yang lalu.
Aku hanya
mengenalmu lewat surat-surat yang kau kirimkan lewat kakak pos kita yang baik
itu. Aku menikmati membaca surat-surat yang kau bikin. Aku menyenangi cerita
yang teliti dan, kau mampu menulis dengan tingkat ketelitian yang cukup tinggi,
dan memiliki selera humor yang cukup bagus untuk dituliskan. Dengan selera
humormu, kau bisa membikin pembaca tersenyum simpul dengan surat-suratmu yang
bercerita sederhana dan jernih. Tak pernah terpikirkan olehku, bahwa ujian yang
biasanya mengundang rasa mencekam, eh tetiba saja di tulisanmu kedatangannya menjadi
ditunggu-tunggu dan mengundang tawa simpul. Atau dengan sudut pandangmu dalam
bercerita soal rumah sakit, kupikir siapapun yang membaca tulisanmu tentang
rumah sakit akan berubah cara ia memandangnya. Rumah sakit yang selama ini kita
ketahui bentuknya begitu-begitu saja, di tulisanmu ia menjadi ‘sosok’ yang
seolah-olah bernyawa, hidup dan memiliki emosi. Sungguh tulisan itu
mendatangkan rasa haru untukku. Ada komedi satir disana. Aku tak akan heran
pada diriku sendiri, jika suatu saat tampak menangis tersedu-sedu sambil
memeluk tiang di lorong rumah sakit—oke, ini lebay.
Engkau tentu
sudah pernah mendengar istilah dark
comedy, bukan? Tulisanmu tentang rumah sakit itu kupikir bisa digolongkan
kedalam cerita dark comedy, keren
sekali.
Yah, itu
pendapatku tentang tulisanmu dalam sudut pandang seorang penulis amatir,
Nindya. Benarkan panggilanmu Nindya? Itu nama yang bagus menurutku. Dengan W, beberapa
kali aku diskusi untuk mempertimbangkan memberikan nama itu pada seorang gadis
cantik yang di masa depan. J
NB:
Nindya, aku baru
saja menemukan makna lain kata amatir, ternyata akar katanya berasal dari amare. Artinya mencintai. Kuharap, kau
selalu mencintai dunia tulis menulis dan, tentu saja, juga membaca.
Selamat menulis,
berjuanglah…
***
@iTalkspace
Anggota Syarikat Pembenci Tombol Backspace cabang Ps. Minggu
2 comments:
hore hore akhirnya dibalaaass \(´▽`)/
- ika, tukangpos
wah kak makasih banyak ya atas suratnyaa. ga nyangka ada balesannya. sampe bingung nih mau bilang apa hehe. makasih atas pujiannya (kalo blh disebut itu) walaupun ga seperti itu kenyataannya hehe. makasih juga atas kata-kata "baru" dari surat ini: komedi satir dan amare. surat ini juga mengundang tawa simpul.
sekedar info yg kurang penting kak, kata mama nindya itu artinya cahaya. mungkin pertimbangan kakak dan kak W akan semakin kuat dg tau artinya :p
titip salam lagi ya kak, buat kak W. semoga berbahagia sampai akhir hayat.
semangat menulis!
NK
Post a Comment