Geografi, Geograf Jomblo dan Petanya



Apa yang bisa kau gambarkan ketika mengeja kata geografi? Yak, kebanyakan orang akan memiliki gambaran di balon kata—seperti komik!—di kanan atas kepalanya,  begini: “Geografi adalah satu mata pelajaran—hapalan—yang mulai ditemukan sejak SMP sampai SMA. Pelajarannya mengenai negara-negara dan ibukotanya dan letak dan peta-petanya.” Komik punya ciri khas dibanding bacaan lain. Ia bercerita dengan menggabungkan antara deskripsi dan dialog dan visualisasi. Kita sudah tahu itu. Deskripsi biasanya ditulis di pojok kiri atas gambar. dialog ditulis dalam kotak seperti balon. Sebut saja balon kata. Biasanya ditempatkan di sisi kanan atas tokoh yang sedang berdialog. Biasanya begitu.


Kembali ke soal geografi, bagaimana kalau begini. Bayangkan dirimu menjadi tokoh dalam satu lembar komik. Si Tokoh—yaitu dirimu sendiri—sedang berdiri, sendirian. Kau bisa menggunakan kostum superhero atau baju safari atau apa saja. Di kiri atas lembaran ditulis deskripsi begini:”Ia sedang mencoba menyampaikan konsep apa itu geografi”. Nah, di bagian kotak dialog atau balon kata-kata, isinya masih kosong. 
 Ya, balon kata itu mau kau isi apa? Apa geografi itu sebenarnya menurutmu? Apakah sama dengan yang telah diterangkan di paragraph pertama? 

Kalau masih bingung, mari kita lanjutkan tulisan ini sedikit lagi.
Berdasarkan asal kata (etimologis), kau bisa memaknai bahwa geografi adalah gambaran bumi(geo=bumi. Graphien=gambar). Pengertian kekinian: Ilmu geografi merupakan ilmu yang mempelajari gejala-gejala keruangan (space) yang ada di permukaan bumi. Apa itu gejala keruangan? Gejala keruangan adalah segala fenomena yang ada hubunganya dengan ruang. Contoh: kebutuhan manusia untuk bergerak dalam ruang. O ya, arti ruang disini bisa tempat atau waktu. Intinya adalah keruangan!

Mulai njelimet? Mari kita bikin tambah njelimet lagi.

Pada prinsipnya ilmu yang bejejer itu bisa dikelompokkan atas 3 (tiga) saja: yang kesatu adalah ilmu murni, seperti fisika, kimia, biologi, sosiologi, antropologi, dll. Yang kedua multidisiplin ilmu, artinya ia menggunakan berbagai macam ilmu murni dalam menyelesaikan satu masalah khusus. Contoh yang terkenalnya adalah ilmu lingkungan. Nah, Geografi adalah jenis disiplin ilmu yang ketiga: interdisiplin ilmu. Apa itu? Interdidiplin adalah ilmu yang menghubungkan satu ilmu dengan ilmu yang lain. Geografi menghubungkan secara keruangan. Masih njelimet juga? 

Contoh: beda nasib dua batang pohon toge. Satu batang tumbuh di daerah pegunungan satu batang lagi di daerah pesisir pantai. Toge yang tumbuh di pantai ternyata daunnya lebih tipis dan batangnya lebih imut daripada toge dari pegunungan. Perbedaan ini timbul disebabkan oleh faktor ruang tempat ia tumbuh, dan ini disebut dengan faktor keruangan! Berhubung pohon toge subjeknya orang biologi, maka untuk itu lahirlah cabang geografi dan biologi yang dikasih nama biogeografi yaitu menghubungkan ilmu biologi sebagai ilmu murni dengan ruangnya. 

Contoh berikutnya—agak njelimet: beda harga toge di dua kota. Kota Nod sebagai penghasil toge menjual togenya ke kota-kota tetangga. Kota Nod bertetangga dekat dengan Kota No dan kemudian Kota Ci. Jika ditarik garis lurus, Kota No ada di tengah-tengah, diantara Kota Nod dan Kota Ci. Ternyata, harga toge di Kota No lebih mahal dibandingkan di Kota Ci, meski secara jarak Kota No lebih dekat dengan Kota Nod. Loh kok bisa? Ternyata ada faktor lain selain jarak yang mempengaruhi harga toge. Ada pengaruh jalur distibusi disini. Jadi, toge dari Kota Nod dijual ke Kota Ci, jualnya ke pengepul. Baru dari pengepul di Kota Ci toge didistribusikan kembali secara eceran di Kota Ci sendiri, Kota No dan Kota-kota tetangga lainya, dengan memperhatikan ongkos distribusi tambahan penjualan secara eceran. Nah perbedaan harga ini disebabkan oleh faktor distribusi—di dalam “ruang”—yang dikonversi menjadi tambahan harga karena adanya faktor jarak. Dan ini disebut dengan faktor keruangan. Berhubung soal harga dan distribusi gawean-nya Ilmu ekonomi, maka untuk hal ini dilahirkan cabang geografi dan ekonomi yang bernama Geografi Ekonomi.

Nah, sudah semakin enteng kan memahami apa itu geografi? Mulailah berpikir terbalik soal Ilmu Geografi ini. Geografi itu bukan tentang hapalan. Intinya Geografi itu penelitian.
Setelah bisa dipahami, bisakah kau bayangkan seperti apa wujud ilmu-ilmu berikut?? Geografi Sejarah, Geografi Politik, Geografi Penduduk, Geografi Pendidikan, Geografi Desa Kota, Geografi Transportasi, Geografi Kesehatan, Geografi Pendidikan, Geografi Industri, Geografi Hidrologi (Geohidrologi), Geografi Maritim, Geografi Pertanian, Dll.

Untuk menganalisis topik-topik itu ahli geografi atau—panggilan kerennya—Geograf harus mempunyai modal dasar(dibaca, Besar) yaitu kemampuan analisis spasial. Selain itu seorang geograf juga harus memiliki ilmu dasar. Seperti Hidrologi, Pertanian, Ekonomi, Demografi, Politik, Dll.

Seorang Geograf yang aduhai adalah ia yang memahami detail permasalahan dari dasar ilmu keruangan tersebut. Intinya adalah “Ruangnya”, bukan “Ilmunya”. Contohnya Geografi Pertanian, intinya adalah masalah geografinya, bukan pertanianya. Namun, seorang Geograf Aduhai harus paham tentang pertanian. Seminimalis-minimalisnya kulit luarnya saja. Jadi: semakin tinggi ilmu seorang geograf, pengetahuannya tidak semakin dalam, melainkan semakin meluas. Seperti tahu banyak hal, tapi tidak terlalu dalam. 

Begini jargon iklannya: Geograf itu tumbuhnya ke samping bukan ke dalam

Oh bagaimana dengan peta? Dengan peta bagaimana? Yak. Peta adalah Koentji! Ini Prinsip! Perkakas utama Geograf adalah peta. Lah, bagaimana menjelaskan fenomena keruangan kalau tak ada peta? 
Harus beda dengan prinsip Geograf jomblo sejati. 

No woman? No Cry! 
No Maps? No Hope!!
***







2 comments:

Heru Sandra said...
This comment has been removed by the author.
Heru Sandra said...

i ever be this condition where I felt don't believed and so wrong in take the geography as my Study, but so far I think my perspektif Is wrong about it