Untuk W, Betapa Aku…

Gambar dari sini
W,
Setelah 21 hari lalu aku memutuskan menulis surat untukmu lagi, aku tak pernah benar-benar membayangkan sebelumnya, apa-apa saja yang akan aku tuliskan untukmu. Hari itu aku mengambil keputusan untuk menuliskan kenanganku saja tentangmu. Kenangan tentang mu yang jumlahnya beribu-ribu, kenangan yang berkualitas high definition dengan kualitas suara super stereo terbaik. Aku beruntung masih menyimpannya rapi di tempurung kepalaku dan, sebagian kecilnya aku tuangkan sebagai catatan harian. Tak begitu ruwet rasanya jika aku harus menulis surat untukmu sepanjang tahun pun. Seribu purnama akan aku lakoni untuk menuangkan kenanganku untukmu jika dibutuhkan.

Seperti kenanganku yang satu ini:
***
Pertengahan Januari 2006,
Setelah seminggu atau lebih ketika akhirnya aku memutuskan untuk melepaskanmu, tak lagi menempatkanmu dalam jangkauanku, beberapa kawan dekat menemuiku. Mereka datang untuk menghiburku. Yah, layaknya orang yang kehilangan atau baru saja melepaskan sesuatu. Mereka datang bermaksud membantu aku untuk tetap kuat layaknya lelaki, tetap tabah, tegar, kuat dan tak menjadi lelaki lemah yang tak bisa lepas dari masa lalu. Aku memberikan mereka senyuman, senyuman palsu. Aku meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja. Mengatakan bahwa masih ada yang musti aku tuju, meski tanpa dia, tanpa engkau.

Betapa hancurnya
Betapa remuknya hati
Betapa redamnya jiwa

Setahun atau lebih ketika akhirnya aku memutuskan untuk melepaskanmu, tak lagi menempatkanmu dalam jangkauanku, beberapa kawan masih berkunjung, menanyakan keadaan dan menghiburku. Yah, layaknya orang yang kehilangan atau melepaskan sesuatu. Aku kuat layaknya lelaki, tabah, tegar, dan sudah bisa lepas dari masa lalu. Seperti biasa aku memberi mereka senyuman, senyuman palsu. Aku berdiri dibalik senyum palsu. Rasanya aku semakin ahli untuk bersembunyi dibaliknya, tanpa dia, tanpa engkau.

Betapa hancurnya
Betapa remuknya hati
Betapa redamnya jiwa

Aih, aku mendengar kau sekarang sudah tak sendiri lagi, sudah ada dia, aku kenal Dia. Dia benar-benar lelaki, kuat layaknya lelaki, tabah, tegar dan tak ada sangkut paut dengan masa lalu. Wahai, engkau beruntung mendapatkan dia, mendapatkan engkau.

Betapa hancurnya
Betapa remuknya hati
Betapa redamnya jiwa

Tak adakah yang bersedia atau mengerti? Tarik saja tanganku dari kegelapan yang semakin dalam. Aku tak butuh kata penghibur, aku butuh tangan kawan yang menolong dan membantu melewati semua. Tolong, tarik aku.
***

NB: Saat dulu menulis ini, aku ditemani syair dan lirik “Betapa” dari band favoritku, Sheila On 7.

2 comments:

Michael Edward said...

Ini penulis kesayangan kak Ika. Duh, siapapun si W ini, aku pengen jewer telinganya.



-Mike, Tukang Batu. Eh, Tukang pos.

iTalkspace said...

Duh, kesayangan Kak Ika?
*speechless* :))))